“Untuk apa aku berdebat dengannya, hanya membuang waktu. Mungkin nahkoda ini telah tergiur dengan calon penumpang yang katanya sudah menunggunya di Priok,” bisik lirih si penumpang pada dirinya sendiri.
“Aku harus bergegas. Jika tidak, akan tertinggal kereta pertama yang akan ke Surabaya,” batin si penumpang sambil mulai mengemasi barangnya.
Akhirnya, penumpang dan kedua anaknya turun di Priok. Nahkoda terlihat cuek. Tak peduli gerutuan dan umpatan penumpang yang merasa tertipu.
“Aih, cepat turunlah kau dan anak-anakmu itu! Calon penumpangku sudah tak sabar menungguku,” tegur nahkoda itu.
Ketika tiga penumpang turun, mereka memandangi biduk yang diam itu. Sungguh, tempat ini tak pernah terbayang di benak mereka. Tapi demi kedua anaknya, perempuan itu berusaha tegar. Ia meyakinkan anaknya bahwa semuanya akan baik-baik saja. Ya, semuanya akan baik-baik saja. Perempuan itu menatap kedua belahan jiwanya.
“kita akan tetap sampai di Surabaya, Nak. Meski harus mengarungi bahtera yang lain,” ucap sang ibu. Anak-anak itu menatap dalam matanya.
*
Nahkoda bersuka. Sambil bersiul, ia bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Dipakainya kaos hitam dan celana jeans kesayangannya. Tak lupa topi yang melingkar di separuh kepalanya.
“Aku harus terlihat rapi di hadapan calon penumpang ,” katanya sambil menatap wajah tirusnya di dalam cermin, yang tertutup debu akibat terlalu lama tak dibersihkan. Setelah siap, nahkoda bergegas turun. Ia melayangkan pandang ke semua penjuru pelabuhan.
“Di mana calon penumpang itu, bukankah ia sudah berjanji menungguku di Tanjung Priok dekat container warna merah milik pedagang rempah?” ujar nahkoda yang mulai merasa resah karena tak kunjung menemukan calon penumpang nya.
“Tak apalah, mungkin calon penumpang itu pun sedang bingung mencariku karena memang belum pernah bertemu. Aku dan dia ‘kan hanya saling kenal di dunia maya, belum pernah bertatap muka” bisik nahkoda meyakinkan diri.
Dengan gontai, ia melangkahkan kakinya menuju warung kopi terdekat. Ia hubungi calon penumpang nya jika saat ini ia telah lama menunggu di warung kopi. Di sana, ia memesan secangkir kopi hitam.
Tersebab ia belum punya nomor HP calon penumpang itu, lalu diambilnya telepon genggam dari saku celana dan dibukanya messengger untuk menginbok penumpang baru.
“Kutunggu di warung kopi bertenda biru. Aku sudah tak sabar ingin melihat langsung paras cantikmu itu” pesan itu meluncur seketika.
Kemudian ia menyecap kopi hitam kesukaan sambil memantik sebatang rokok. Ditatapnya telepon genggam yang terdiam di atas meja. Dahinya mengerut.
