Wednesday, May 19, 2021
Home > Literasi > Cerita > Kisah Nahkoda

Kisah Nahkoda

Sebuah biduk tak lagi memiliki arah karena nahkoda melupakan peta perjalanannya, tertinggal saat mencicipi semerbak aroma kopi tetangga yang sangat jauh. Peta tertinggal, nahkoda kebingungungan. Perjalanan itu menjadi tak lagi jelas arah dan tujuannya. Tiga penumpang itu tak lagi percaya. Mereka minta segera turun di pelabuhan terdekat yang dapat disinggahi. Penumpang tak mau berlayar tanpa tahu kapan harus menepi.

“Perjalanan konyol macam apa ini,” kata seorang penumpang yang geram melihat nahkoda termangu di atas singgasananya.

“Meski kami ini hanya penumpang, kami punya hak untuk menentukan arah mana yang hendak kami tuju. Kami naik perahu ini karena kami pikir Anda layak dipercaya mengantarkan kami ke tempat terakhir sesuai dengan kesepakatan yang telah dibuat,” gerutu seorang penumpang yang kesal saat nahkoda mulai bingung menentukan arah.

Para penumpang terus berkesah. Dengan egonya, sang nahkoda tak menerima ocehan penumpangnya.

“Ah, tahu apa kau tentang perjalanan. Tidurlah saja, tak perlu kau tengok kiri kanan. Membawa biduk ini adalah urusanku. Kau hanya penumpang, tak perlu mengaturku! Jika kau tak senang, turunlah sekarang! Sebab aku masih ingin berlayar sesukaku. Tak suka aku berlayar dengan penumpang cerewet macam kau ini,” sanggah si nahkoda.

“Apa? Kau bilang aku cerewet? Aku bukan cerewet, aku hanya mengingatkanmu jika kau telah keluar dari jalur yang hendak kita tuju. Waktu keluar dari dermaga, biduk ini hendak turun di surabaya. Mengapa malah hendak ke Priok? Padahal kau tahu bila tak ada penumpangmu yang turun di sana. Jika hendak kau ke Priok, turunkanlah kami dulu! Jangan kau bawa serta! Karena kami tak ingin penat dalam perjalanan yang bukan tujuan kami,” ucap penumpang.

Facebook Comments