Setiap hujan datang, aku selalu teringat kepadamu. Sebuah kenangan yang hingga tahun-tahun berlalu pun tak bisa kulupakan. Kenangan yang diam-diam mengendap di jantungku.
Malam ini hujan datang lagi. Membawaku menelusuri indahnya wajahmu di foto berframe hitam, yang hingga kini masih kusimpan di lemari hitamku. Ya, setiap hujan datang. Selalu pula kuingat wajahmu.
“Datanglah ke pestaku esok hari!” katamu waktu itu sambil menyodorkan sesuatu.
Kemudian aku merasa telah jauh tertinggal dari rentetan kisah hidupmu. Bahkan, aku tak lagi bisa mengenali potongan rambutmu yang biasanya tergerai sebahu itu.
Tentu saja aku takkan datang. Mestikah kutunjukan kepura-puraanku kepadamu, ayahmu, ibumu, serta adik-adikmu? Juga kepada lelaki klimis yang akan duduk di sampingmu, yang kelak mengisi hari-harimu selanjutnya? Tidak.
Waktu yang terus berjalan telah membawaku kepada seorang gadis manis berjilbab merah muda. Begitulah, setiap saat ketika kami bertemu. Ia selalu mengenakan jilbab berbeda yang berwarna sama.
Sebenarnya, ini bertentangan dengan naluri kelaki-lakianku. Aku menyukai wanita berbusana konvensional. Maksudku, yang tak berjilbab. Namun waktu dan ruang mampu mengubah apa pun.
Ketika itu, kami berdua dikurung hujan lebat sehingga berteduh di toko buku yang biasa kami kunjungi tiap akhir pekan.
Tiba-tiba aku teringat padamu. Mataku tak lagi tertuju ke buku-buku yang tersusun rapi di rak, melainkan jauh menembus kaca jendela toko itu. Berbaur dengan hujan yang seolah turut merasa kehilangan dirimu.
“Buku ini sepertinya cocok untukmu,” suara lembut perempuan itu memecah kenanganku.
Ia memberikan padaku sebuah buku tentang teori bumi datar. Sungguh, aku tersentuh. Ia telah berusaha keras memahamiku.
Tapi, aku dan hujan itu. Dan juga perempuan itu. Serta pertarungan segala macam teori kiri dan kanan, kemudian berakhir pada segelas kopi pahit yang kami minum berdua secara bergantian. Tuhan, maafkan aku! Entah mengapa bayangan kisah masa lalu itu tak lekas sirna.
Hujan datang ketika aku bertandang ke rumahnya. kopi pahit dalam mug hitam tinggal terisi setengahnya saja. Dingin.
“Aku akan melanjutkan kuliahku ke kota lain,” katanya seiring guntur dan petir yang meraung-raung di langit, seperti menyambar tubuhku.
Aku adalah orang yang tak pernah percaya dengan hubungan jarak jauh. Jarak pun kian terbentang di antara kami berdua. Menjauh bersama kenangan.
Lalu, kudengar ia telah menjalin hubungan dengan lelaki lain. Pada suatu ketika di saat kami bertemu, aku tak bertanya. Ia pun sepertinya enggan menjelaskannya.
