Tapi ke mana nahkoda hendak mencari? Ia tak tahu alamat rumah penumpang pertama itu. Yang ia tahu, penumpang pertama dan kedua anaknya hendak ke Surabaya. Ia sangat menyesali diri. Sekian lama berlayar dengan penumpang pertama, tapi tak pernah tau alamat tinggalnya.
Nahkoda sadar akan kealpaannya. Jika selama berlayar, ia tak menjejak alam nyata. Ia mengabaikan penumpang pertama karena terbuai teman dunia maya yang begitu memikat hatinya.
“Apalah dayaku sekarang ini, nasi telah menjadi bubur. Air ditempayan itu telah kutumpahkan karena mengharap hujan besar yang akan datang. Tapi hujan itu tak juga mengguyur tubuhku, meski waktu sebulan telah berlalu. Tinggallah kini diriku yang kusam dan gersang hati,” ia merenungi nasibnya.
Kini hidupnya sangat menderita. Menjadi kuli kasar di pelabuhan. Tak henti-hentinya, ia tawarkan bahtera kepada siapa saja yang hendak membeli. Atau mungkin ada calon penumpang lain yang sudi bersamanya melanjutkan perjalanan lagi. Tapi siapa yang hendak sudiberlayar bersama lelaki yang sudah tampak kumuh dan tak pantas disebut nahkoda lagi?
ilustrasi: beaufortncevents.com
