Saturday, May 9, 2026
Home > Literasi > Cerita > Kisah Nahkoda

Kisah Nahkoda

”Pesanku sudah masuk, tapi mengapa belum dibaca calon penumpang itu? keluh si nahkoda yang mulai gelisah dibangkunya.

Digunakannya fasilitas mesengger untuk menelpon calon penumpang  itu, tapi tak juga diterima panggilannya. Nahkoda mulai merasa resah. Kopi yang diminumnya tak lagi terasa nikmat. Kegelisaannya semakin kentara dari asap rokok yang tak hentinya disemburkan menjadi gumpalan asap.

“Aih, apa pula yang terjadi ini? Ke mana perempuan itu? Tak tahukah dia jika aku sudah penat menunggunya disini? Sudah kembung perut ini oleh lima cangkir kopi,” gerutu kecil si nahkoda.

Kembali dia menatap layar telepon genggam nya, tapi tetap tak ada tanda bahwa perempuan calon penumpang  itu membalas pesannya.

*

Dua jam sudah, ia menunggu. Karena malu pada pemilik warung yang sewot ia pun membayar tagihan dan bergegas kembali ke bahteranya.

“Kutunggu saja dia di bahteraku,” kata nahkoda itu sembari melangkahkan kakinya.

Waktu begitu lambat merayap. Hari telah berganti malam, tapi calon penumpang itu tak kunjung datang. Pesannya juga tak berbalas. Teleponnya selalu berakhir sama dengan pesan yang ia kirim penuh cinta.

Hari berganti hari. Si nahkoda masih menanti. Wajahnya yang dulu sumringah saat bahtera sandar awal di pelabuhan, kini telah kusam dan penuh guratan. Pakaiannya pun jadi lusuh. Sebulan dalam penantian, si nahkoda beralih menjadi kuli angkut pelabuhan. Sekadar mencari tambahan penghasilan. Maklumlah uang di kantongnya ketika itu hanya mampu bertahan seminggu.

Waktu itu, nahkoda berkhayal akan bertemu dengan calon penumpang yang dapat memberinya lebih daripada penumpang pertama dan kedua anaknya, yang telah ia turunkan tidak di tempat tujuannya.

Ada rasa sesal menyusup sanubarinya. Ditatapnya wajah kusam, rambut gondrong awut-awutan serta pakaian kumal yang melekat di badannya.

“Sudah jadi apa aku ini? Ke mana calon penumpang itu?” bisiknya lirih.

“Apa yang hendak kulakukan sekarang? Tak mungkin pula aku harus menjadi kuli pelabuhan sepanjang waktu,” ia bermonolog di tengah keputusasaannya.

Calon penumpang  itu tak lagi dapat dijumpai. Harapan melihat wajah cantik dan berlayar dengan penumpang idaman hilanglah sudah. Lenyap bersama dengan telepon genggam si nahkoda yang telah habis terjual bersama dengan seluruh barang berharga miliknya.

Kini yang tersisa hanya diri si nahkoda dan bahteranya yang tak lagi dapat kemana-mana. Habis sudah bahan bakar dan perbekalan untuk melanjutkan perjalanan selanjutnya.

Terlintas di benak sang nahkoda untuk mencari penumpang pertama dan kedua anaknya. Nahkoda ingin meminta maaf karena sikap arogannya. Calon penumpang  dunia maya itu telah membutakan matanya. Ia begitu terkesima dengan raut cantik dan pesan-pesan menarik yang selalu menghiasi teleponnya.

Translate »