Sunday, May 10, 2026
Home > Kupas > Penyair Tiga Generasi: Para Nomine Kusala Sastra Khatulistiwa 2017

Penyair Tiga Generasi: Para Nomine Kusala Sastra Khatulistiwa 2017

Penyair Tiga Generasi

SEBELUM melangkahkan kaki ke ibukota, saya menghubungi tiga nomine Kusala Sastra Khatulistiwa (KSK) 2017. Dua di antaranya kebetulan akan menghadiri acara serupa dengan saya, yakni Deddy Arsya dan Hasta Indriyana. KSK adalah ajang penghargaan bergengsi untuk sastrawan Indonesia yang didirikan oleh Richard Oh dan Takeshi Ichiki. Ajang ini sudah dilaksanakan sejak tahun 2001. KSK, dulunya bernama Khatulistiwa Literary Award (KLA). Pemenang utamanya akan mendapat hadiah seratus juta rupiah.

Tersebab saya tiba lebih awal di Jakarta sebelum acara Gerakan Literasi Nasional 5-7 Oktober 2017, malam itu saya menonton perhelatan akbar malam anugerah Hari Puisi Indonesia 2017 di gedung Graha Bhakti Budaya TIM, Jalan Cikini Raya 73, Jakarta Pusat. Tepat pukul 21.35 WIB, seorang penulis muda berbakat kelahiran 1990 mengabarkan bahwa ia baru saja selesai rapat di IKJ dan sekarang telah berada di sebuah kantin di TIM. Saya pun bergegas meninggalkan ruangan dan menuju penulis muda berbakat itu, Heru Joni Putra (HJP).

Formula Badrul Mustafa

HJP yang ketika itu berada satu meja dengan Pinto Anugerah, Fariq Alfaruqi, Iyut Fitra, dan teman-teman penulis asal Sumbar, terpaksa saya gondol ke meja sebelah. Kami pun berbincang-bincang mengenai Badrul Mustafa. Di tahun 2017 ini, buku puisi HJP yang berjudul Badrul Mustafa Badrul Mustafa Badrul Mustafa masuk lima besar KSK dalam dua nominasi sekaligus, yakni kategori puisi dan kategori karya pertama atau kedua. Mengapa Badrul Mustafa? HJP mengatakan bahwa Badrul Mustafa merupakan tokoh fiksi yang menjadi fokus penceritaan, tetapi ia tidak sepenuhnya sebagai nama tokoh, ia juga menjadi perumpamaan, menjadi kata ganti, dan lain sebagainya. Dalam buku puisinya, HJP menggabungkan bentuk puisi dan prosa.

Judul buku puisi HJP bisa dikatakan unik karena ada pengulangan Badrul Mustafa sebanyak tiga kali. Tiga kali karena kehadiran Badrul Mustafa bermacam ragam, berbagai karakter, berbagai latar, dan berbagai dinamika hadir di dalamnya. Angka tiga sebagai bentuk terkecil dari jamak, bukan satu yang tunggal atau dua yang dikotomis. Sebagai formula, nama “Badrul Mustafa” bisa digunakan secara kultural menjadi semacam si Fulan. Tidak ada sebuah karakter nyata. Ia hanya Fulan yang hadir di berbagai tokoh dan situasi untuk menyebut banyak peristiwa.

Saat pertama kali melihat kover buku HJP, saya sempat berpikir bahwa nama Badrul Mustafa lebih mirip dengan nama orang-orang keturunan Arab. HJP menjelaskan bahwa dalam urusan sastra, kita boleh-boleh saja menyerap unsur apa pun dari sastra dunia. Tapi, apakah ada korelasi antara Arab dan Minang? Masuknya Islam ke Minangkabau tentu membawa pengaruh Arab di dalamnya, meski tak sepenuhnya. Pada sisi tertentu, banyak aspek kebudayaan Arab-Islam yang sudah melebur bersama kebudayaan Minangkabau-Hindu-Budha sebelumnya. Sehingga, apa yang pada zaman dulu mungkin masih disebut sebagai kebudayaan Arab, kini telah menjadi suatu produk akulturasi yang tak bisa sepenuhnya dicari kemurnian Arabnya. Contohnya pada nama-nama khas Minangkabau yang banyak dipengaruhi oleh bahasa Arab.

Translate »