“Saya tidak yakin menjadi pemenang KSK meskipun masuk lima besar kategori buku puisi. Saya belum membaca semua buku nomine KSK kecuali Badrul Mustafa Badrul Mustafa Badrul Mustafa. Menurut saya yang paling berpeluang adalah Hasta Indriyana. Sebab yang menjadi pertimbangan lain bukan hanya teks, melainkan juga hal-hal di luar karyanya,” tuturnya.
Karena tak diburu keberangkatan kereta dengan bayang-bayang pintu pagar akan dikunci oleh Pak kos seperti pertemuan pertama dengan HJP, kami mengobrol dengan santai seperti obrolan teman lama yang baru bersua.
Sebelum Penyair Revolusioner, buku puisi Deddy yang juga pernah masuk lima besar Khatulistiwa Literary Award 2013 berjudul Odong-Odong Fort de Kock, meski tidak menjadi juara utama di KLA, buku ini terpilih sebagai sastra terbaik 2013 versi majalah Tempo. Perbedaan antara buku puisi yang lama dengan yang baru bisa dilihat dari bahasa. Puisi-puisi di Penyair Revolusioner lebih pepat dan padat. Ibarat pohon beringin, akarnya terlalu banyak menjalar kemana-mana dan pada buku puisi kedua, akar-akar ini sudah dipangkas. Proses menuju pemangkasan melalui upaya berkreasi dan evaluasi kerja kepenyairan sebelumnya.
“Tiba-tiba saya merasa bahwa puisi yang baik itu yang sederhana,” ucapnya.
Buku yang sering dibaca oleh Deddy, selain Chairil Anwar, ada Emily Dickinson (Penyair AS) dan Adonis (Penyair Arab). Menurut Deddy, Adonis adalah tonggak perpuisian modern Arab dan seringkali diunggulkan meraih nobel. Selain Nizar Qabbani, ia sangat senang membaca Adonis. Dengan membaca, tidak bisa dipungkiri bahwa puisi-puisi Deddy terpengaruh gaya kepenyairan idolanya.
Sambil menelan es buah, Deddy menjelaskan bahwa buku Penyair Revolusioner mendeskripsikan tentang autokritik, menggugat adat, menggugat sejarah, dan menggugat dunia sastra sebab ia tidak begitu suka dengan hiruk pikuk sastra, awalnya buku ini akan diberi judul Musim Beras Mahal dan Wabah Cacar, pertimbangannya bisa salah letak di rak kesehatan, maka saran editor akhirnya judul buku berganti menajadi Penyair Revolusioner.
Mengapa buku puisi Penyair Revolusioner perlu dibaca banyak orang? Sebab Penyair Revolusioner berbeda. Terkadang ada penyair lain yang terlalu sibuk dengan bahasa, berakrobat dengan kata-kata, dan mengasah kemahiran bahasa sehingga mengabaikan konten dan hasilnya, pembaca hanya akan menikmati kerimbunan bahasa tanpa mendapatkan apa-apa. Dalam Penyair Revolusioner, kerimbunan bahasa dan konten dipadupadankan.
“Menulis puisi bagi saya berangkat dari konten, setelah itu baru mempermainkan konten degan kemahiran bahasa. Jangan sampai terbalik atau kehilangan salah satunya. Penyair yang lebih menggunakan objek bahasa tanpa konten seringkali terjebak pada kerimbunan bahasa sehingga seringkali penyair memberikan sisipan konten setelah menafsirkan. Saat menulis puisi, saya tidak pernah mencari kata-kata, tetapi kata-kata yang menghampiri saya. Ia datang tiba-tiba di kepala dan segalanya menjadi senyap. Barangkali seperti nabi Muhammad kala menerima wahyu dari Allah SWT,” tutur Deddy.
