Yang menjadi pembeda buku puisi RDB dengan buku puisi Piknik yang Menyenangkan (PYM) adalah bahwa buku PYM memang sedari awal niatnya mau dibagi-bagi sebagai dokumentasi saja. Selama bertahun-tahun beragam gaya puisi dicoba: mulai dari mengeksplor gaya bahasa yang lebih bebas, struktur kalimat, hingga pencarian rima. Puisi terbaik ada di buku PYM. Buku yang pernah menjadi unggulan puisi HPI ini memang tidak untuk dijual. Dicetak sebanyak 120 eksemplar, 80 eksemplar dibagikan kepada siapa saja yang menginginkannya. Hingga sekarang ada penerbit yang menginginkan buku PYM dicetak ulang sebab banyak yang ingin membacanya, namun Hasta belum mengizinkannya.
Tawaran estetik RDB memang ada, tetapi tidak terlalu banyak. Buku puisi ini ditulis dalam tiga bagian. Bagian satu berjudul “Rahasia” ditulis dengan gaya alusi dengan sedikit banyak acuan sejarah. Bagian dua berjudul “Dapur” memakai impresi dengan mengisahkan rempah-rempah dan menunjukkan kekayaan Indonesia. Sementara bagian tiga “Bahagia” mengisahkan perkakas-perkakas dapur tradisonal.
Azan Jumat menggema dan saya bergegas pamit menuju ruang C. Di akhir Oktober nanti Badrul Mustafa Badrul Mustafa Badrul Mustafa dan Penyair Revolusioner akan menemui takdirnya bersama Rahasia Dapur Bahagia. Lalu bagaimana dengan buku puisi lain yang belum masuk KSK? Ia akan mengalir tak henti-henti di tubuh pencintanya.

