Sunday, May 10, 2026
Home > Kupas > Penyair Tiga Generasi: Para Nomine Kusala Sastra Khatulistiwa 2017

Penyair Tiga Generasi: Para Nomine Kusala Sastra Khatulistiwa 2017

Penyair Tiga Generasi

Indonesia sangat kaya, termasuk kulinernya. Banyak tersedia bumbu, rempah-rempah, hasil bumi yang bisa dinikmati  sehingga harus dikabarkan dalam bentuk puisi. Meski sudah ada penyair Indonesia yang menulis tentang masakan, yakni penyair wanita berdarah Tionghoa, Hana Fransiska. Menurut Hasta yang membedakannya hanya persoalan batasan tema, bentuk, dan jenis-jenis masakan tertentu yang akan ditulis.

Saat puan.co menanyakan apakah Hasta bisa memasak? Dengan tidak malu-malu, penulis kelahiran 1977 ini menjawab, “Saya bisa memasak karena belajar dengan istri. Selain momong anak perempuan – si Candi – hampir tiap hari saya memasak untuk rumah sebab istri saya bekerja. Perihal enak atau tidaknya, yang penting bisa melepaskan lapar. Saya memang bapak rumah tangga,” tuturnya sambil menyeringai.

Hasta kemudian menceritakan bahwa judul buku puisi Resep Dapur Bahagia merupakan masukan dari istri. Bahwa ada kata “rahasia” yang menarik untuk didengar karena kata itu mengandung misteri. Sementara kata “dapur” mewakili kuliner, dan kata “bahagia” memang ingin menampilkan hal-hal yang riang.

Mengenai buku puisi nomine lain, Hasta mengatakan bahwa ia belum membaca semuanya. Yang sudah ia baca hanya buku puisi HJP sebab ia memang suka dengan buku puisi itu dan Hasta tak pernah bosan membacanya. Menurut Hasta semua buku yang masuk lima besar pasti bagus dan memiliki kelebihan tersendiri. Puisi itu masuk ke wilayah seni. Ketika seni dilombakan, tentu saja subjektivitas juri yang akan berbicara. Cita rasa yang dikehendaki seperti apa ia juga belum tahu. Biasanya tidak hanya semata teks yang dinilai, tetapi di luar teks juga menjadi pertimbangan.

“Saya belum pernah membayangkan akan jadi pemenang, ini event sastra yang cukup besar di Indonesia. Saya merasa belum pantas menjadi juara meskipun saya diam-diam mengharapkan hadiahnya. Harus banyak berproses,” tuturnya sambil tersenyum.

Buku RDB memang sudah diniatkan jauh-jauh hari dalam sekian tahun. Untuk menulis puisi-puisi dalam buku RDB, Hasta banyak membaca buku-buku yang berkaitan dengan kuliner, seperti Serat Centhini, Babad Tanah Jawi, Babad Gunung Kidul, dll. Setelah membaca biasanya pengetahuan semakin bertambah. Sebut saja masakan kare dari India, ketika masakan itu masuk pertama kali di Indonesia melalui Aceh, maka ia akan berbaur dengan budaya setempat dan tidak lagi murni sebagai kare India. Hal ini banyak terjadi pada beberapa masakan, misalnya saja semur yang aslinya berasal dari Eropa. Ketika semur masuk Indonesia, citarasanya sudah Jawa banget. Ada beberapa orang yang mengatakan bahwa semur adalah pencapaian masakan Eropa tertinggi di Indonesia.

Translate »