Proses menulis puisi dalam buku Badrul Mustafa sudah berlangsung sejak 2006 – 2016, tetapi formula yang lebih utuh untuk Badrul Mustafa baru ditemukan 2013. Bila membuka buku puisi ini, Sahabat Puan akan menemukan bahwa dalam setiap puisi hadir tokoh fiksi yang bernama Badrul Mustafa dalam berbagai modus kehadiran.
“Badrul Mustafa hanyalah salah satu cara untuk mencoba kemungkinan lain dalam menulis puisi. Memang tak mudah. Saya memang tidak tergesa-gesa untuk memiliki antologi tunggal. Keinginan untuk memiliki buku tentu saja sudah muncul sejak lama. Namun, saya berusaha untuk menahan diri. Betapa sulitnya meyakinkan diri bahwa puisi-puisi yang saya tulis sudah “layak” dipublikasikan dalam bentuk buku. Kalau menerbitkan saja mah gampang. Akan tetapi, menulis puisi itu sangat sulit. Satu puisi rata-rata tiga bulan. Setahun paling cuma sepuluh puisi. Bagaimana pula lagi? Belum lagi mengumpulkan bahan-bahan yang akan kita gunakan untuk menulis karya. Kan kita menulis sastra, bukan curhatan patah hati,” tuturnya. Bagi HJP, puisi semestinya bisa menjadi “pamflet” di zamannya.
Malam semakin dingin. Jam di pergelangan tangan sudah menunjukkan pukul 22.15 WIB, saya berpamitan kepada teman-teman penulis. Taksi online menurunkanku di Stasiun Cikini. Gerbong bernomor dua belas membawa serta tubuhku sampai Stasiun Pondok Cina, Depok. Deru mesin kereta mengingatkanku bahwa masih ada dua nomine KSK lagi yang harus diburu: penulis Penyair Revolusioner dan Rahasia Dapur Bahagia.

Penggemar Adonis yang Memangkas Akar Beringin
TANGGAL 5 Oktober 2017, saya sudah tiba sejak pagi di Hotel Santika, TMII, Jakarta Timur. Dari sekian banyak teman penulis, saya belum melihat Deddy Arsya dan Hasta Indriyana. Lagipula, acara pembukaan acara GLN 2017 yang digelar Kamis malam dihadiri Menteri Pendidikan RI, Muhadjir Effendy dan selesai pukul 22.00 WIB. Lalu saya memutar kepala dan tibalah saat yang dinanti. Setelah acara pembukaan selesai, saya menuju resto dan menghampiri Deddy Arsya.
Obrolan saya bersama Deddy Arsya di restoran hotel malam itu dimulai dengan puisi dan diakhiri dengan kopi. Kami duduk berdua sambil menikmati makan malam dan saya merasa merdeka karena berhasil menculik beliau dari teman-temannya. Deddy sudah menulis puisi sejak sepuluh tahun lalu, namun akhir-akhir ini Deddy lebih senang menulis sejarah. Deddy juga menulis cerpen, esai, dan cerita anak. Di acara GLN 2017 ini saja, buku cerita anak Deddy lolos dua judul. Ya, lumayan bisa mengantongi dua gepok uang yang masing-masing nominalnya Rp 10 juta. Lucunya, Deddy tidak mau dibilang sebagai multitalent, sembari tertawa ia memplesetkan menjadi multidisipliner.
