Thursday, April 16, 2026
Home > Literasi > Opini/esai > Novel Bumi Manusia dan Rekayasa Komersialisasi Industri Film

Novel Bumi Manusia dan Rekayasa Komersialisasi Industri Film

bumi manusia

Penonton model ketiga lebih moderat. Film benar-benar membuat posisinya sebagai yang tidak tahu menjadi energik untuk membaca novel Bumi Manusia dalam bentuk utuh, lalu memperbandingkan dan mengkritisinya dengan penuh bijak. Sementara model kedua, adalah mereka yang sudah membaca novelnya jauh sebelum difilmkan, bisa dikatakan pengagum atau pengidola penulis. Jumlah mereka sedikit, tetapi alasan dan rasionalitas argumen mereka, baik yang menolak maupun yang menerima optimis, lebih mampu dipertanggungjawabkan secara formal dan akademis daripada mereka yang berkomentar berdasarkan animo rendah. Termasuk sebagian banyak yang sudah menolak adaptasi novel ini. Karena mereka sendiri sudah memahami Bumi Manusia, baik secara teks sebagai karya literatur agung, secara riset ilmiah, dokumen peradaban, dan sejarah maupun secara konteks yang berisi ideologi nasiolisme secara umum, feodealisme Jawa secara khusus. Apalagi ketika sutradara Hanung Bramantyo, memparbandingkan dengan novel Ayat-Ayat Cinta. Sungguh, klaim cita rasa yang rendah! Hanya pembaca kritis yang mampu memasuki Bumi Manusia sebagai disiplin mahakarya karya klasik bangkitnya nasionalisme tak sebanding roman pop dan percintaan islami rumah tangga.

Sebagaimana sudah diulas panjang lebar di awal, sikap dan pandangan akan menentukan posisi dan kemampuan literasi Anda dalam memberikan perspektif. Sebab ini adalah novel yang diadaptasi menjadi film dan bukan film yang dijadikan buku. Tidak salah kaprah penilaian bertumpu karena hanya melihat satu titik terang layar lebar dan tidak sadar diri sebab melupakan kepentingan tertentu di balik produksinya. Dari novel Buku Manusia, Anda akan diajari bersikap kritis, idealis, nasiolias untuk melampaui material benefits, tetapi dari film, Anda akan dituntun dan diarahkan ke sebatas merek, bisnis ikon, trend pasar, profit results, dan kepemilikan properti. Bumi Manusia adalah sebuah esensi, eksistensi, kualitas, dan karakter. Sementara film adalah sebuah market products, temporary ads, dan material advertising. Tentu semua tidak bisa dielak, saat komoditas bertahta di atas segala interest dan kebutuhan konsumen, modal dan pasar menjadi jawaban segala kehidupan publik. Pelan-pelan kita pun kembali ke habitat dan tabiat bangsa yang lapang dada dan pemaaf. Sebagaimana tersirat dalam pernyataan putri kandung Pramoedya Ananta Toer – Astuti Ananta Toer – dalam pers, “Saya berharap, mungkin juga Pram, setelah menonton film ini, penonton akan diberikan kekuatan agar lebih berani, mencintai keadilan dan kebenaran, berpihak kepada yang benar, berpihak kepada yang adil, dan mencintai keindahan.” (al/rfh)

Jakarta, 01 Juni 2018

Translate »