Thursday, April 16, 2026
Home > Literasi > Opini/esai > Novel Bumi Manusia dan Rekayasa Komersialisasi Industri Film

Novel Bumi Manusia dan Rekayasa Komersialisasi Industri Film

bumi manusia

Pemandangan yang cukup ironis dan tragis melihat kenyataan generasi bangsa lebih mengenal anak kemarin sore daripada orang yang sudah makan-minum asam garam kehidupan. Maklum, generasi mutakhir kita ini adalah generasi media dan digital, di mana segala pola hidup dan pergaulannya berasal dan berakhir di akun sosial. Jadi hanya bisa diberi pemakluman jika Bumi Manusia tak mereka kenal karena Pramoedya memang bukan selebgram, bukan pula penulis kids jaman now. Pramoedya Ananta Toer adalah penulis yang tidak kesampaian memegang smartphone, mirrorless, dan smartwatch karena hidup berdampingan dengan kebangkitan negerinya, bukan semata penikmat apa-apa yang sudah ada, bukan pemuja merk, brand, dan styles. Pramoedya Ananta Toer adalah pelaku sejarah bukan konsumen barang-barang modis, glamor, dan komersil.

Kalau kehidupan sehari-hari selesai dari membuka layar ponsel ke menutup chating, maka suatu kewajaran pengetahuan dan pengalaman Anda hanya bersumber dari gosip dan isu yang berkembang. Selain itu, posisi guru Bahasa Indonesia yang tidak pernah mengenalkan karya-karya terbaik ketika Anda menjejakkan kaki di sekolah selama dua belas tahun hingga kuliah, juga problem mendasar mengapa sedemikian bloon otak dan pikiran generasinya. Mungkin, karena institusi pendidikan dan sosial kita hingga sekarang secara sistemik memang membentuk sedemikian rupa. Mungkin juga, sebagian besar dari mereka (baca: pihak institusi) tidak tahu dan tidak paham soal karya sehingga yang memenuhi rak-rak perpustakaan sekolah dan kampus hanya buku-buku pasaran, picisan dan kacangan, paling getol bersampul best seller. Seolah tradisi pembudayaan baca kita tidak memberi sinyal baik mengenai kesusastraan senyatanya sehingga terjadi semacam blokade pengetahuan dan pengalaman. Selebihnya, kebiasaan hidup sudah tidak menjamin mereka bergaul mahir dan sportif dengan teknologi. Tentu saja, sangat elusif dalam melahirkan kecerdasan dan kepekaan dalam menganalisis aktualitas irformasi dan berita secara absah. Mudah terjebak hoax, viral, dan senang meniru-niru dan ikut-ikutan (baca: membeo). Sikap latah yang membentuk kepribadian tidak pernah mandiri dan mau mencari tahu, mudah menduga-duga dan bertindak, tetapi tidak ingin bertanggung jawab atas segala konsekuensi.

Teknologi yang mereka genggam tidak mempunyai fungsi bersamaan dengan modal dan strategi mereka yang lemah dalam memobilisasi kerja media sosial dan digitalisasi, sehingga selera dan rasa menjadi potensi problematik yang sering muncul seiring pergaulan mereka dengan akun sosial. Bila tidak sesuai dengan cita rasa dan kehendak, mereka tak segan-segan menghujat dan mencela. Jika selaras dengan gairah, mereka akan tampil sebagai pemuja dan pendukung utama.

Translate »