Tidak ada yang luput dari masa lalu. Entah itu menyenangkan seperti warna-warni bunga yang bermekaran atau justru hitam pekat seperti sisa batang pohon yang tebakar. Sayangnya, hanya sedikit yang peduli dan benar-benar mencari dengan sengaja. Apalagi jika masa lalu itu gelap, menyeramkan, dan menyakitkan. Mengingatnya saja sudah mengerikan. Melalui Mata Malam (Baca Publishing House, 2017), Han Kang menyajikan kekelaman yang menyelimuti Korea pada masa lalu, yakni Gwangju Uprising (Pemberontakan Gwangju). Tragedi “5-18” yang mengisyaratkan tanggal 18 Mei 1980. Siapa sangka tragedi ini seperti ironi jika diketahui para penggemar K-pop dan K-drama. Di balik kecantikan dan ketampanan artis-artis Korea yang menjadi bahan puja-puja di zaman ini, ternyata negara mereka memiliki masa lalu yang bisa dan pantas dikatakan buruk.
Mata Malam sangat terasa didorong oleh karakter-karakter yang kuat sama seperti Kang mendorong karakter-karakternya pada novel sebelumnya – Vegetarian – yang pantas meraih Man Booker International Prize. Sang penulis yang sedang disorot kesusastraan internasional ini memang piawai membuat tulisan yang apik. Novel ini memiliki enam bagian dengan sudut pandang tokoh yang berbeda-beda. Kang menggunakan sudut pandang orang pertama, kedua, dan ketiga, yang membuat keenam bagian itu lebih terlihat menjadi satu kesatuan utuh. Menjadi sebuah pemandangan yang memilukan. Menjadi sebuah lukisan dan tulisan muram, namun menyimpan kekuatan yang luar biasa. Cara Kang menguraikan setiap potongan-potongan kejadian membuat hati nurani tergugah. Rasa benci, sesal, kesal, pilu, haru, bertumpuk menjadi lapisan-lapisan yang merangkai imajinasi pembaca. Barangkali setiap negara memiliki kesuraman masa lalu yang hampir sama. Tragedi ’65 dan ‘98 di Indonesia misalnya, pembantaian kamp Shabra dan Shatilla, tragedi Bosnia, peristiwa Holocaust, dan peristiwa-peristiwa di belahan dunia lain. Tragedi dengan alasan berbeda, tetapi tetap berakibat sama: menghilangkan hak hidup manusia.
Novel ini saya selesaikan bertepatan dengan kejadian bom di Surabaya (14 Mei 2018). Artinya, sebentar lagi peringatan 5-18. Ya, menghilangkan nyawa orang seperti hal receh untuk mendapatkan hasil yang mereka inginkan, bahkan mereka sendiri bertindak di atas pembenaran, bukan kebenaran. Saya setuju sekali ketika membaca bagian belakang buku ini. Satu komentar singkat dari Times Literary Supplement, “Kesaksian menggetarkan atas derita mereka yang tertindas; karya fiksi yang memberi suara bagi mereka yang bisu — hidup ata umati.”
