Setidaknya, nanti ketika Bumi Manusia sudah rilis menjadi film, sedikit-banyak mereka dan kaum pemuja/fans Dilan juga akan tampak menuai kekecewaan jika “ternyata” sang pujaan (baca: Iqbaal) tidak sedahsyat akting Dilan dalam film Dilan 1990. Penungguan mereka terhadap peran Iqbaal atas dasar ucapan-ucapannya yang romatis, masih menjadi tanda tanya besar, akankah kembali ada ungkapan-ungkapan lebay, seperti
“Rindu itu berat, kamu takkan kuat, biar aku saja.”
Sebuah kalimat Dilan yang sangat viral, membuat jagad media ke-baper-an dan para pelakunya mabuk dan kesurupan sehingga mereka sangat akrab dengan Iqbaal sebagai Dilan, tetap memungkinkan sinyal otomatis dalam diri mereka kembali bekerja sembari menanti layar lebar kembali terbentang ke hadapan mereka menyajikan karakter Iqbaal yang baru sebagai Minke. Dengan standar, jika perannya melampaui Dilan sebelumnya, mereka bakal puas. Dan sebaliknya, kalau aktingnya “menurut mereka” kalah, maka hanya akan ada kekecewaan. Mereka tidak akan sadar dan menyadari, tentang novel Dilan 1990 dan Bumi Manusia yang sangat berbeda jauh. Novel Dilan 1990 adalah novel bergenre pop dan picisan tentang hubungan percintaan remaja secara umum, sedangkan Bumi Manusia identik karya sastrawi (baca: sastra serius) mengenai spirit nasionalisme pemuda.
Ketidakpuasan tersebut tidak hanya berimbas kekecewaan, tetapi juga bisa berpotensi menyalahkan Bumi Manusia dan Pramoedya Ananta Toer, lantaran saat difilmkan tidak seseru Dilan 1990. Hubungan asmara dan percintaan romantis Dilan dan Amelia yang alay-lebay, sungguh tidak akan sebanding berbayar dengan kisah Minke dan Annelis Malema. Meski, keduanya bermuara dari cinta, tetap dalam karakter sosial yang berbeda. Jikan Dilan bersandar pada hubungan asmara millenial, maka Minke berdasar perjuangan ketidakadilan kolonial. Lantas, siapa yang patut disalahkan? Tentu saja, mereka yang tidak tahu-menahu, tetapi sok tahu.
Ragam Spekulasi Penonton dan Pembaca Novel
Berbagai gejolak tersebut, khususnya atas dipilihnya Iqbaal sebagai pemeran utama film Bumi Manusia, akhirnya akan melahirkan ragam spekulasi di antara pembaca dan penonton. Penonton yang memang mengejar film karena kecanduan sang pemeran Minke, penonton yang ingin melihat film sebab sudah membaca bukunya dan penonton yang mencari buku karena menonton filmnya. Model pertama, adalah orang-orang yang tidak peduli terhadap novel Bumi Manusia seperti apa pun itu meski kehadiran mereka mendominasi kedua model penonton berikutnya dan dampaknya lebih gempar. Dengan kata lain, merekalah kaum hura-hara tak punya barometer selain menyolak dan mencecar tanpa kapabilitas. Alih-alih statusnya masa bodoh ketika film sudah selesai ditonton. Jika pun ada yang penasaran, model penonton kuriositas semacam ini masuk ke nomor tiga.
