Wednesday, May 19, 2021
Home > Literasi > Opini/esai > Novel Bumi Manusia dan Rekayasa Komersialisasi Industri Film

Novel Bumi Manusia dan Rekayasa Komersialisasi Industri Film

bumi manusia

 

“Seorang terpelajar harus sudah berbuat adil sejak dalam pikiran,
apalagi dalam perbuatan
(Pramoedya Ananta Toer)”.

 

Perspektif Novel dan Film
Novel dan film adalah dua bidang karya yang sangat berbeda. Novel mengandalkan bahasa sebagai teknik penyampaian jalan cerita, sedangkan film mengutamakan visualisasi gambar dengan performa pemeran. Keduanya tidak pernah berjalan setara dan seimbang meskipun berasal dari adaptasi tema, alur cerita, dan penokohan yang sama, tetapi tetap saja memiliki sisi yang tidak akan pernah bisa disatukan dan dipertemukan. Tentu saja, alasan tersebut berangkat dari kondisi perbedaan bahasa dan gambar sebagai alat utama di antara keduanya. Bahasa tulisan yang tidak pernah bisa diterjemahkan secara sempurna ke dalam bahasa gambar secara utuh, juga teknik bahasa yang mustahil sampai pada visualisasi gerak adalah alasan mendasar ketidakmungkinan menyamakan keduanya, sehingga akan selalu ada kekurangan dan kelebihan yang muncul ketika novel sudah rilis menjadi film.

Bahasa yang selalu berurusan dengan estetika linguistik, inovasi dialektis, dan pengembangan literatur akan bertolak belakang dengan filmisasi yang cenderung mengarah ke properti, hal-hal yang bersifat komoditas. Dalam hal ini, bisa melihat keduanya dari segi publikasi dan marketing sehingga ada tolok ukur untuk membedakan dari kacamata publik sebagai lapangan luas tempat kedua bidang karya tersebut lahir. Pada bentuknya yang mediatif, novel dan film mempunyai arah yang sama, yaitu pembaca dan penonton (baca: publik) sebagai bagian penting tak terpisahkan. Masing-masing sudah memiliki jalur ke mana mereka didistribusikan.

Novel sebagai produk selalu memperhitungkan pencapaian aspek fisik – baik bahasa, desain linguistik dan sistem tata bahasa, maupun nonmateri – terkait kebenaran kolektif, riset/hipotesis mengenai kultur, adat-istiadat, kebudayaan, agama, ekonomi, dan komunitas sebagai latar belakang. Sementara film mempunyai banyak sensor dalam menghadirkan realitas secara objektif karena ia hanya memperhitungkan sampainya pesan, pelajaran, dan hikmah yang sudah disaring. Tentu saja, hal ini bisa dibilang menyimpan kepentingan tertentu, terkait dengan surplus dan persetujuan pasar secara umum (public approval).

Facebook Comments