Monday, May 10, 2021
Home > Literasi > Opini/esai > Yante Fagnan Yanad : Gerakan Orang Tua Sayang Anak

Yante Fagnan Yanad : Gerakan Orang Tua Sayang Anak

Yante Fagnan Yanad : Gerakan Orang Tua Sayang Anak

Miris rasanya melihat beragamnya tindak kekerasan terhadap anak akhir-akhir ini. Yang lebih membuat hati pilu, pelaku kekerasan seringkali justru orang terdekat dari anak korban kekerasan itu. Ada ayah kandung yang tega menyalurkan nafsu bejadnya kepada anak perempuan yang seharusnya dilindungi. Ada ibu kandung yang justru membunuh anak secara tak manusiawi. Faktor apa pun yang melatari tindak kejahatan ini, tetaplah harus mendapatkan hukuman setimpal meski kita sangatlah mahfum. Ibu kandung yang tega melenyapkan darah daging sendiri, cenderung adalah perempuan korban kekerasan. Baik itu kekerasan fisik, psikis, maupun bentuk kekerasan lain semisal kekerasan sosial dan ekonomi. Pernahkah Sahabat Puan mendengar istilah kekerasan sosial dan ekonomi?

Faktor ekonomi dan sosial dapat memicu terjadinya tindak kekerasan terhadap perempuan dan anak. Semisal perempuan dan anak dari keluarga dengan tingkat ekonomi rendah atau keluarga dengan status broken home lebih rentan mengalami tindak kekerasan. Sulitnya mencari nafkah dengan tingkat kebutuhan tinggi yang harus terpenuhi dapat membuat seseorang depresi dan melampiaskan rasa frustrasinya karena tuntutan ekonomi kepada perempuan dan anak didalam rumahnya. Inilah yang dimaksud dengan kekerasan ekonomi. Atau pula dapat dimaknai sebagai suatu tindakan yang memperbudak perempuan untuk mencari nafkah, sedangkan sang lelaki sebagai suami hanya bermalas-malasan di dalam rumah. Perempuan harus banting tulang memenuhi kebutuhan ekonomi dan lelaki hanya menikmati. Kondisi seperti ini tergolong dalam kekerasan ekonomi yang dilakukan oleh suami kepada istrinya. Atau juga bisa dilakukan oleh orang tua kepada anaknya. Misalnya memaksa anak di bawah umur bekerja di luar batas kemampuan mereka.

Anak adalah titipan Ilahi yang harus kita jaga. Selayaknya barang titipan berarti bukanlah kita sang empunya. Ada Sang Pemilik Hidup yang sewaktu-waktu dapat mengambilnya. Karena itu, haruslah diperhatikan semua aspek tumbuh kembang anak. Hak anak sendiri secara yuridis formal diakui dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak yang sudah beberapa kali direvisi untuk meningkatkan upaya perlindungan terhadap anak itu sendiri. Selain diubah dengan Undang-UndangNo 35 Tahun 2014, di tahun 2016 juga lahir Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 01, yang secara tegas mengatur hukuman bagi pelaku tindak kekerasan seksual kepada anak. Hukuman kebiri secara kimiawi diharapkan dapat menimbulkan efek jera kepada pelaku. Akan tetapi, toh nyatanya berita dan informasi tentang tindak kejahatan seksual maupun kekerasan lainnya makinlah masif kita dengar. Lalu, adakah yang salah di negeri ini? Mengapa anak-anak selalu menjadi tempat pelampiasan ataupun sasaran kejahatan?

Facebook Comments