Monday, May 10, 2021
Home > Literasi > Opini/esai > Mengenal Hak Perlindungan Maternitas Perempuan Pekerja

Mengenal Hak Perlindungan Maternitas Perempuan Pekerja

Revolusi industri di Inggris berabad-abad lalu, membawa perubahan bagi ruang gerak perempuan. Sejak saat itu, perempuan mulai mengenal ruang di luar lingkup domestik atau rumah tangganya, yaitu dunia kerja di sektor industri manufaktur atau pabrik. Di sektor ini, perempuan turut menyumbangkan tenaganya pada catatan sejarah perkembangan industri. Meskipun pada kenyataannya, perempuan hanya dihargai tenaga kasarnya saja dengan upah rendah dan perlakuan tak manusiawi.

Oleh karena itu, pemilik modal dalam perkembangan industri sejak era revolusi industri hingga kini, sangat senang dengan pekerja perempuan. Sebab, perempuan yang bekerja mengisi pabrik-pabrik, mereka sangat mudah diatur, hanya diam dan tak melawan jika diintimidasi, tidak berkeinginan untuk memberontak, dan tidak pernah ricuh menanyakan upah yang dibayar rendah, maupun jika memungkinkan tidak dibayar sama sekali.

Kondisi demikian, masih menjadi salah satu alasan sampai hari ini untuk lebih memilih memperkerjakan perempuan , ketimbang laki-laki di sektor industri manufaktur besar maupun kecil. Namun, perubahan jaman yang merentangkan revolusi industri dan menyeret perempuan ke dunia kerja ini, justru akhirnya membukakan kesadaran terhadap hak perempuan sebagai manusia yang sama dengan laki-laki.

Kesadaran akan hak perempuan sebagai manusia tersebut, merupakan kesadaran bahwa ternyata perempuan tidak dapat dipisahkan perannya sebagai pengemban keberlangsungan peradaban manusia dari segi reproduksi biologis. Peran ini menyangkut kodrat melekat perempuan untuk melahirkan, menyusui, menstruasi, mengasuh anak hingga menyediakan kehidupan yang layak bagi anaknya juga keluarganya.

Sayangnya, kesadaran akan hak kemanusian perempuan dan peran kodrati perempuan tersebut, di dunia kerja kerap diabaikan. Perempuan hanya dijadikan objek yang diperas tenaganya, dijadikan serupa mesin yang patuh memproduksi barang demi keuntungan pemilik modal. Derajat kemanusiannya pun dengan demikian diturunkan serta merta. Perempuan bekerja dalam hal ini, tidak dianggap sebagai bagian dari kelangsungan kemanusiaannya.

Facebook Comments