Wednesday, May 19, 2021
Home > Literasi > Cerita > Begitu Lekas Ia Pergi

Begitu Lekas Ia Pergi

Begitu Lekas Ia Pergi herdoni

Dapatkah menerka hidup manusia? Katanya hidup ayam bisa kita terka, hari ini beli besok mati. Tapi, bagaimana bila malam harinya ayam itu mendadak mati? Lantas, dapatkah menerka hidup manusia?

Umurnya beranjak lima belas tahun kala itu –  namanya Edi – seorang lelaki. Bapaknya baru saja pergi ke langit. Kelima adiknya yang masih kecil-kecil, bersaing paling kencang melengking. Ibu sembab matanya. Matanya menerawang. Hatinya tak rela, begitu lekas sang suami pergi. Ya Ilahi, kehidupan yang misteri.

Pandan Dulang adalah desa dari Kecamatan Lawang Wetan, salah satu desa swadaya di Kabupaten Muba, Sumatera Selatan. Berderet dan berjajar rumah-rumah panggung yang terbuat dari kayu dan bambu. Sekeliling desa hanyalah hutan yang ditanami pohon karet, pisang dan sawit, ditumbuhi pohon-pohon kelapa, bambu, beringin, rotan, gambir, tembesu, kemutun, ketiau, gelunggang, medang, pelai, racuk, sungkai, dan macam-macam pohon lainnya. Siang teduh dan malam yang dingin.

Lepas kepergian Mak atau Mamak Mahdi, Uwak Baya sekeluarga pindah ke Sekayu, ibu kota Kabupaten Muba. Mengadu nasib di pusat kabupaten. Wak Baya punya sanak keluarga di Sekayu. Sesungguhnya, sanak keluarga inilah yang menawarkan, merayu-rayu Wak Baya beserta keenam orang anaknya agar mau pindah ke Sekayu. Merenung, menimbang, memikirkan. Uwak Baya tak punya pilihan. Umurnya yang sudah memasuki usia empat puluh, tanpa suami, dan enam orang anak yang kecil-kecil, rasanya mendekatkan diri dengan sanak saudara adalah hal yang bijak. Tak ada harta di Pandan Dulang, mereka keluarga miskin. Hanya sebuah gubuk dan sepetak tanah itulah kepunyaan keluarga. Selama ini, mereka bekerja pada kebun karet punya tetangga.

Bila kedua orang tuanya sedang bekerja, maka Edi yang akan mengasuh ke lima adiknya. Saat itu, Edi tak pernah mendengar kata sekolah, mayoritas memang hampir tak ada yang bersekolah di sana. Edi hanya tahu makan, terkadang membantu memotong karet bila di antara ibu atau almarhum ayahnya ada yang berhalangan, mengasuh adik-adiknya, lantas tidur. Rutinitas yang umum bagi anak-anak di Pandan Dulang.

Facebook Comments