Thursday, April 16, 2026
Home > Literasi > Cerita > Surga yang Menyiksa

Surga yang Menyiksa

Perempuan dari lembaga perlindungan anak dan perempuan, yang memperkenalkan diri dengan nama Astuti,mengatakan kasus serupa sering terjadi beberapa waktu belakangan. Sasaran para penjual dan bandar narkoba terutama anak-anak dan kalangan perempuan.

Astuti mengatakan pemasok barang haram untuk Asri dan teman-temannya sudah teridentifikasi. Saat ini, Bandar tempat Asri dan teman-temannya mendapatkan narkoba sedang dalam pengejaran petugas.

Astuti mengatakan bahwa lembaganya dan BNN sudah lama mengincar bandar yang memang sengaja menyasar anak dan kalangan perempuan. Para pengedar dan bandar semakin leluasa merekrut pengguna narkoba dengan sistem MLM (Multi Level Marketing). Asri menjadi jaringan ini sejak enam bulan lalu.

Astuti memperlihatkan benda serupa buku agenda yang dari tadi dipegang temannya. Dibukanya buku itu. Ada banyak foto dan kliping koran.

Dua kliping koran dari media besar terpampang.  Berita tanggal 07 Desember 2017: “Jaringan China Pasok Ribuan Ton Sabu ke Indonesia”. Di lembar sebelahnya ada pula berita hari Jumat tanggal 21 Juli 2017, “Ratusan Ton Sabu Asal China Masuk ke Indonesia Selama 2016”. Ada lagi potongan berita dari media lainnya, tanggal 19 Juli 2017, “250 Ton Sabu Asal China Masuk Indonesia, Korban Tewas 15 Ribu Orang”.

Asrul terhenyak. Ribuan tanda tanya mengambang di benaknya.

Astuti memperlihatkan foto penangkapan Asri dan teman-temannya yang terjaring razia narkoba kepada Asrul. Ia ingin meyakinkan apakah benar Asri yang ditangkap adalah istri dari laki-laki yang dari tadi diajaknya bicara.

Foto satu orang wanita dengan rambut sebahu dikeluarkannya.

“Astaghfirullah!”

Asrul menghela nafas.

Di foto itu, Asri hanya berpakaian minim dengan rambut tidak ditutup. Meski kepalanya menunduk, wajah Asri masih bisa dikenali dengan mudah.

Ketiga orang yang dari tadi ngobrol serius itu terperanjat. Tangan mungil tiba-tiba saja meraih foto yang disodorkan Astuti ke hadapan Asrul. Sari yang sedari tadi duduk bermain boneka bersandar di punggung Asrul, bangkit dan merebut foto di tangan Astuti.

“Mama,” kata Sari sembari menggores-goreskan telunjuk mungilnya di wajah Asri dalam foto yang baru saja ia ambil paksa.

“Pa, mau ketemu mama,” pinta Sari merengek.

Asrul kembali menghela nafas panjang.

***

Biodata Penulis

Jhoni Imron, sehari-hari bekerja sebagai jurnalis di salah satu media online di Jambi.

Translate »