Beruntung si Sari anaknya, malam ini tidak berada di kamar laki bini yang sudah gamang itu. Seperti biasa, Sari tidur di kamar sebelah bersama Bi Inah. Anak semata wayangnya ini memang lebih dekat dengan Bi Inah ketimbang ibunya. Sejak Asri pulang pergi tak tentu waktu, Bi Inahlah yang menjadi tempat Sari bermanja layaknya dengan seorang ibu meskipun Bi Inah lebih tepat dipanggilnya nenek. Kedekatan keduanya membuat kegelisahan Asrul sedikit berkurang.
Belum sempat ia mengumpulkan kesadarannya, Asri kembali membuat Asrul terperangah. Sekonyong-konyong perempuan itu melintas di depannya. Tangannya mendorong tubuh Asrul hingga terjatuh ke lantai. Masih dengan mata bengis, perempuan itu terus berlalu. Suara bantingan keras pintu kamar menjadi penutup kemarahan Asri malam itu.
**
Sebelumnya, keluarga kecil Asrul dan asri merupakan keluarga yang harmonis dan bahagia. Mereka punya usaha pakaian yang cukup maju. Toko grosir busana muslim yang dikelola berdua menjadi rujukan tempat berbelanja se-ecamatan tempat mereka tinggal. Saban hari tokonya disesaki pembeli. Selain menjual partai besar dengan harga murah, Asrul juga memberikan penawaran spesial bagi pembeli pakaian dengan jumlah sedikit.
“Toko Grosir Pakaian Muslimah Asri”, yang menempati ruko empat pintu itu mereka bangun dari nol. Asrul memulainya dengan menjadi penjual pakaian keliling dari rumah ke rumah. Usaha itulah yang ia tekuni sejak mempersunting Asri, gadis lugu anak petani sawit.
Tiga tahun menikah, usahanya semakin maju. Mulai dari membuka ruko satu pintu, lalu menjadi empat pintu. Bahagia sekali pasangan itu, hidup dari usaha yang mereka rintis. Kebahagiaan Asrul dan Asri semakin lengkap dengan kelahiran anak pertamanya yang sudah lama mereka nanti. Seorang bayi perempuan yang lucu hadir ketika usia pernikahan mereka menginjak tahun keenam. Semua terasa semakin sempurna.
Melalui bisnis pakaian muslim miliknya, Asrul dan Asri melanglang buana dari satu kota ke kota lain. Hanya sekadar mencari produk-produk baru, kadang memang sengaja untuk pelesiran. Sepanjang masa itu pulalah Asri mengubah gaya hidupnya. Meski tak disetujui, perempuan yang dulunya mengenakan kerudung dan pakaian longgar sejak dinikahi Asrul, tiba-tiba berpenampilan sangat “modis”, seperti setiap hari akan catwalk di panggung. Lingkungan pertemanannya juga sudah berubah drastis.
Kadang Asri lebih sering pergi bersama teman-temannya, dibanding menemani suaminya berbelanja keperluan toko. Sementara Sari, anak semata wayangnya, lebih sering dititipkan ke Bibi Inah, asisten rumah tangga yang sudah seperti keluarga di rumah Asrul. Mereka tinggal di ruko bagian atas toko yang dibangun dua tingkat.
