Friday, May 22, 2026
Home > Literasi > Cerita > Cinta untuk Lara

Cinta untuk Lara

anak tuli

Kalau gunjingan itu hanya tentang dirinya, Dayu masih bisa menerima.  Ketika bisikan yang terdengar samar itu tentang Lara, Dayu kerap tidak tahan. Lara tidak boleh dihina mereka.Ia anak tak berdosa.

*

Sejak saat itu, kemana pun Dayu pergi, Lara selalu ia bawa. Biasa mengasuh adik-adik di panti tidak menyulitkan Dayu membesarkan Lara. Apalagi Lara bukan anak yang rewel, Dayu sedih.

Dua bulan Lara bersamanya, justru Dayu baru tahu kalau Lara tidak hanya tunawicara, ternyata bayi mungil itu juga tunarungu.  Saat itu panci dapurnya jatuh ke lantai dan berdenting keras. Lara tidak bergeming dalam tidurnya. Lara tidak pernah tertarik pada bunyi kerincing yang Dayu pasang di lengan kirinya.

“Apakah karena Lara tidak sempurna, orang tuanya tega meninggalkannya di pinggir jalan seperti itu?” Dayu tetap merasa tidak habis pikir ada seorang ibu yang tega membuang bayi merah secantik Lara.

Dayu kembali merapatkan selimut Lara yang kini tersibak lagi. Dia berbisik sambil mendekap Lara.

”Ibu akan selalu menjadi telinga dan suaramu Nak , ibu akan berusaha menyempurnakan hidupmu.” Dayu mengecup lembut kening Lara.

*

Hari ini Dayu izin tidak bekerja. Ada acara pentas seni di sekolah Lara.  Lara akan tampil menari.

Semalaman Dayu tidak tidur, tangannya sibuk mempermak baju balerina yang ia temukan pada tumpukan toko baju bekas di Pasar Angso. Setelah dicuci dan disetrika, baju itu tampak lebih bagus dari sebelumnya. Hanya sedikit kebesaran di badan Lara. Dayu pun berusaha menjahitnya hingga pas di tubuh Lara.

Halaman sekolah nampak penuh dengan tamu undangan serta wali murid.

“Cepat datang Bu, acara sudah mulai sejak jam 07.00 pagi tadi. Lara akan tampil sebagai penutup acara. Jangan sampai terlambat!bunyi sms Bu Tari pada Nokia 3315 membangunkan Dayu pagi itu.

Masya Allah, Dayu terperanjat gugup.

Baju balerina yang ia permak sampai subuh sudah terpasang di tubuh Lara. Lara tahu ibunya tidak tidur semalaman, jadi ia tidak tega membangunkan Dayu. Ia justru hanya memilih duduk di samping Dayu, menunggunya terbangun.

**

Dayu mengambil kursi bagian belakang.

Sebetulnya ia ingin sekali duduk di paling depan, untuk melihat tarian Lara.

Tapi ia menatap gamis dan jilbab besarnya yang lusuh…ia malu pada tamu undangan dan wali murid yang tampak bersinar dengan pakaian dan perhiasan terbaiknya.

Keningnya berkeringat …

Cuaca memang mulai panas, tapi Dayu berkeringat karena gugup menanti Lara tampil dengan tariannya..

**

Mata dayu tak berkedip menatap gadis mungilnya di panggung. Diringi lagu Kasih ibu. Lara menari balet layaknya ballerina profesional. Ia tidak mendengar musik yang mengiringi tariannya, ia hanya bergerak sebagaimana isyarat Bu Tari yang duduk tak jauh dari dirinya.

Translate »