Dayu pasrah, biarlah hanya ia dan Tuhan yang tau bagaimana hidup miliknya itu.
*
Sudah satu bulan ini Lara bersekolah. Dayu menduga usia Lara genap enam tahun, hingga ia memberanikan diri menyekolahkan putri kecilnya.
Dayu ingin Lara bernasib lebih baik dari dirinya. Meski konsekuensi yang harus ia terima harus menambah jumlah cucian dan setrikaan baju dari rumah laundry tempatnya bekerja. Tentu untuk mendapat upah lebih agar bisa membayar biaya sekolah Lara yang tidak murah.
Lara tidak bisa belajar di sekolah biasa layaknya anak-anak lain.
Lara punya keterbatasan. Yayasan Kasih Putih, satu-satunya sekolah swasta yang mau menerima segala keterbatasan Lara. Dayu harus menyiapkan biaya Rp500.000,00 per bulan untuk SPP Lara. Nilai yang tidak sedikit untuknya.
Upah mencuci baju yang ia dapat perkilonya hanya Rp2000,00 sementara dari menyetrika ia hanya bisa mendapat tambahan Rp1500,00 per-kilo. Dayu kerap terpaksa membawa pulang pekerjaannya ke rumah. Ia melanjutkan menyetrika hingga larut malam untuk mengejar tambahan upah untuk kebutuhan spp Lara.
*
Seperti yang ia lewati malam ini.
Satu-satunya jam yang ada di ruangan kamar sudah menunjukan Pukul 02.00 WIB dinihari. Dayu merasakan matanya sudah pedih karena dipaksa masih terjaga menyelesaikan satu tumpukan lagi untuk di setrika.
Sementara Lara tertidur pulas di atas satu lembar kasur tipis yang mereka punya. Kasur kecil itu sebenarnya tidak bisa menampung tubuh Dayu dan Lara ketika berbaring bersama. Sebagian tubuh Dayu terpaksa menyentuh lantai semen agar Lara bisa tidur nyaman dengan bagian ruang lebih luas di kasur tersebut.
Dayu ingin sekali membeli kasur yang lebih besar dan lebih empuk untuknya dan Lara. Selain juga punya keinginan untuk mencari kamar kontrakan yang lebih layak untuknya tinggal.
Kamar berukuran 3 x 4 meter itu lah ruang privasi yang ia dan Lara punya. Di sana mereka tidur, makan, bermain, dan memasak; hanya kamar mandi saja yang tidak ada di dalamnya.
Letak kamar mandi ada di luar. Di pakai bersama dengan penghuni kontrakan yang lain. Untuk fasilitas minim itu pun Dayu harus membayar Rp300.000,00 per bulan.
Kasur empuk, lemari kayu baru pengganti lemari kardus, dan pindah ke kontrakan dengan kamar yang lebih luas, sepertinya menjadi mimpi yang saat ini harus ia simpan rapat. Jangankan untuk membeli barang-barang tersebut, upah yang ia dapat pun kadang tidak bisa memberikan makann yang layak untuk Lara.
Sebetulnya Dayu tidak ingin menangis, pantang baginya menyesali hidup. Sejak kecil, Dayu terbiasa hidup serba kekurangan. Dayu berusaha terus bersyukur dengan apa yang Tuhan berikan. Tapi ketika beban itu dirasanya begitu berat, kadang isakan tangis itu pecah juga di ujung sajadahnya, menemani doa yang tak pernah bosan ia panjatkan di sepertiga malam.
