Doanya selalu untuk Lara. Gadis kecil yang sebenarnya bernasib tidak lebih baik dari nasibnya sendiri. Kehadiran Lara justru kerap membuat Dayu malu. Kesempurnaan yang Tuhan berikan atas fisiknya, kadang ia lupakan sebagai rejeki dan nikmat yang tak ternilai. Sementara Lara tak memiliki kesempurnaan itu.
Dayu merapatkan selimut yang tersibak dari tubuh Lara. Dipandangi gadis kecil berkulit putih dan berambut ikal itu. Seandainya Lara bisa berbicara laiknya orang normal, tentu kamar ini akan dipenuhi dengan ocehannya. Lara tuna wicara sejak bayi. Bibirnya hanya bisa mengeluarkan bunyi-bunyi tidak jelas ketika terbuka. Dayu harus menatap matanya untuk bisa mengerti apa yang Lara maksudkan. Atau secara cermat membaca bahasa tubuh gadis kecil itu.
Ingatan Dayu kembali ke masa lalu.
Saat itu usianya baru delapan belas tahun. Dayu memutuskan lari dari panti asuhan tempat ia dibesarkan. Bukan karena tidak betah lagi tinggal, tapi karena sudah dua kali ia hampir di perkosa oleh penjaga panti yang baru enam bulan bekerja di sana.
Dayu takut sekali pada laki-laki itu. Sementara untuk mengadu pada ibu panti ia tidak berani.
Meski tidak tau harus melangkah ke mana, pada subuh hari ia nekat memutuskan pergi dari panti. Dalam perjalanan itulah ia bertemu Lara.
Tas besar yang tergeletak di pinggir jalan menariknya untuk mendekat. Tidak ada siapa pun. Hanya dingin dan gelap.
Tas besar itu tampak bergerak-gerak, tanpa ada bunyi dari isi dalamnya. Betapa terkejutnya Dayu ketika mendapati ada bayi merah terbungkus selimut di dalamnya.
Kaget, takut, iba, bingung bercampur dalam hati Dayu saat itu.
“Siapa yang tega membuang bayi ini, ya Allah”, batinnya. Dayu menyentuh lembut wajah bayi merah itu. Mata sipitnya terbuka dan mengerjap dalam remang. Kulitnya terasa dingin. Bibirnya tampak kering dan pucat.
Dayu refleks mengangkat bayi itu dan mendekapnya dalam kehangatan.
Sejak kecil, Dayu pun tidak pernah tahu siapa orang tuanya.
Ibu panti pernah bercerita kalau dulunya Dayu juga ditemukan di pintu panti saat masih berbungkus bedong. Melihat bayi itu, Dayu seperti melihat nasibnya. Dayu bertekad membawa bayi merah itu bersamanya.
*
Dengan tubuh bongsor miliknya, Dayu lebih mudah mendapatkan pekerjaan.
Saat di panti ia sudah cukup terampil untuk pekerjaan mencuci dan menyetrika baju. Dengan keahlian itulah, Dayu hidup dan membersarkan Lara.
Orang banyak yang bergunjing tentangnya. Dayu maklum. Orang mengira Lara adalah anak di luar nikah karena tidak pernah melihat ada laki-laki dalam kehidupan mereka. Terlebih Lara sangat berbeda dengannya. Dayu juga kerap menghindar dari keramaian. Ia jengah dengan tatapan sinis serta curiga.
