Gerakannya lembut dan penuh dengan keanggunan. Dayu nyaris tidak percaya, Lara mampu berdiri tegak dengan tumpuan ujung jari kakinya. Kulit putihnya makin bersinar dengan balutan baju merah hasil permaknya semalam.
Mata Dayu berair, dadanya sesak dipenuhi rasa bangga dan bahagia. Di perjalanan tadi, Lara menarik tubuhnya agar wajah mereka bertatap dekat. Mulut gadis kecil itu terbuka, disusul bunyi suara tidak jelas dari bibirnya. Tapi Dayu mengerti apa yang ingin Lara sampaikan padanya.
“Terima kasih Lara. Jadi tarian itu, Lara persembahkan untuk ibu ya?” Dayu bertanya dalam hati.
Lara tersenyum lebar, matanya semakin menyipit. Ia mengangguk-anggukan kepalanya dengan senang. Merasa maksudnya dipahami Dayu. Dayu merasa sangat bahagia.
Riuh tepukan penonton menutup tarian Lara.
Tapi sebentar kemudian bisik-bisik itu kembali Dayu dengar, disusul tatapan mata-mata penuh curiga yang terasa mulai perlahan menelanjanginya.
Gadis kecil itu berlari mendekati Dayu. Ia menyentuh punggung tangan perempuan itu dengan bibir mungilnya. Kemudian ia tarik tangan itu dengan lembut. Mata sipitnya mengerjab indah, polos, dan tulus.Senyumnya mengembang, memperlihatkan gigi-giginya yang kecil, rapi, dan terawat. Mulutnya bergerak-gerak, mengeluarkan kata-kata dengan bunyi yang tidak jelas. Namun, perempuan itu memahaminya.
“Ibu juga sayang padamu,” ucap perempuan itu pada anaknya. Direngkuhnya gadis kecil itu dalam dekapnya. Lara, nama gadis kecil itu. Ia dekap lebih erat tubuh perempuan itu.
Biodata Penulis
Dewi Yunita Widiarti, sehari-hari bekerja di lembaga Pundi Sumatera.
