Halaman: 1 2
“Penting cucu apa suami?” tanya Kek Warman kesal.
“Kedua-duanya.” Nek Ijah malu-malu.
“Rasanya akhir-akhir ini awak banyak berubah. Sebentar-sebentar ke Jakarta, bulan depan ke Batam, bulan berikutnya mau ke Lampung. Alasan kangen anak, kangen cucu. Seperti tak pernah nelepon aja.”
Nek Ijah salah tingkah. Ia menyadari omelan suaminya itu ada benarnya. Tapi dasar nenek-nenek menopause kampung, lebih senang bersama cucu ketimbang menemani suami.
Klimaksnya, Kakek Warman protes dengan caranya sendiri. Ngambek. Tak mau ditegur dan menegur. Masak, masak sendiri. Tidur, tidur sendiri. Nyuci baju, sendiri. Makan pun sendiri.
Sang isteri tak kalah gengsi. Ia melakukan perlawanan. Merajuk, puasa bicara, dan mengungsi ke kamar depan.
Selama perang dingin, Kek Warman berusaha tegar di hadapan Nek Ijah. Tujuannya, di samping menunjukkan bahwa dirinya tak butuh, agar aroma pertikaiannya dengan sang isteri tak tercium para tetangga.
Hari-hari dijalaninya dengan ceria. Seperti tak pernah terjadi apa-apa dalam rumah tangganya. Hampir setiap hari ia pergi ke kota. Membeli makanan yang banyak dan enak-enak. Sampai di rumah, ia sengaja memamerkan belanjaannya. Bahkan melahapnya sendiri di hadapan Nek Ijah. Habis makan, ia menyisakannya sedikit di piring atau pada kertas pembungkus. Kondisi ini berlangsung hampir tiga bulan.
Sementara Nek Ijah cuman gigit jari. Dalam hati mungkin sudah ada kesadaran untuk baikan, tapi, lagi-lagi demi gengsi, ia tetap bertahan. Indikasi ini terlihat, Kek Warman pernah menangkap basah nenek lima cucu itu mencolek sisa makanan dan memasukkan ke dalam mulutnya. Tapi, demi harga diri, si kakek tak mau negor duluan. Kejadian itu diabaikannya saja. Malahan ia pura-pura tidak melihat.
Suatu hari, Kek Warman lupa mengunci kamar. Di meja khusus tempat makanannya, tergeletak bungkusan sate Padang yang masih berisi setengahnya.
Kesempatan tersebut dimanfaatkan Nek Ijah buat mencuri. Ia meggondol sate tadi ke kamarnya. Lalu mengunci diri.
Ketika kembali ke kamar, Kek Warman melihat satenya telah raib, “Astaghfirullaahal azhiim…., kuciiing!” kakek bergigi palsu itu setengah histeris. Dengan menggunakan sapu lidi, ia menggaruk-garuk pintu kamar Nek Ijah sambil berteriak pelan, “hisy… hisy… hisy… kuciiing…!”
“Uhuk… uhuk… uhuk…” Nek Ijah kelpak-kelpok menahan tawa.

#Simpang Empat, 23112015.
Mohon calon-calon kakek dan nenek menopause, agar memberikan jalan keluar buat Nek Ijah dan kakek Warman. Khususnya rekan KBM yang kompeten di bidang permenopausean. seperti Dokter dan Pshykolog, dan siapa saja yang tak dapat saya sebutkan namanya satu persatu.
