Begitulah Samsul, ia tak dapat lagi membendung emosi tatkala membaca undangan pernikahan ibunya yang diantarkan oleh tetangga sore tadi pada Sari.
“Sari, ini ada undangan pernikahan dari ibumu. Beliau mohon maaf, tak bisa mengantarkan langsung. Ia takut sama kakakmu, takut juga sama bibimu. Ia berharap, kalian anak-anaknya bisa hadir di pernikahannya. Syukur-syukur kalau Bibimu juga mau datang dan bersedia memaafkannya.”
Wati hanya diam membaca undangan itu. Edi, Sumi, dan Romlah turut membisu. Samsul diam menggeram murka. Mereka berkumpul di rumah Wati. Sari membuat kopi di dapur, dan Adit bermain mobil-mobilan bersama anak bibinya yang masih kelas tiga SD. Tiba-tiba suami Wati yang tadinya menahan diri, kini turut bersuara. “Sungguh keterlaluan. Tak punya otak. Sepuluh tahun dia tak ada tanggung jawabnya sama anak, hidup numpang sama anak. Begitu anak mulai tumbuh dan hidup lumayan sehat, eh malah ditinggal. Sekarang datang pula undangan pernikahannya. Edi, anak pertamanya saja belum menikah, dia sudah mau menikah dua kali. Keterlaluan!”
Samsul membuka suara, ia memang sudah geram.
“Jadi, bagaimana pendapat mamak1 ?”
“Kita memang satu keluarga. Tapi, masalah kalian dan ibu kalian, itu kalianlah yang lebih berhak memutuskan. Namun, sebagai suami dari bibimu, aku tegaskan bahwa tak kuizinkan bibi kalian pergi menghadiri pernikahan ibumu Minggu depan. Itu kelewatan. Kalau kuizinkan, sama saja artinya dengan aku mendukung tingkah gila ibumu. Dan nantinya …”
“Aku memang tak akan datang,” Wati bersuara dengan nada yang begitu dingin. Entah mengapa, semua tiba-tiba diam. Begitu hening. Adit yang sedang bermain mobil-mobilan bersama Eko, anaknya Bi Wati, turut diam menatap ke arah bibinya yang duduk membelakangi dirinya. Sari telah lama duduk di kursi, di samping Edi. Kopi panas masih terhidang di atas meja di tengah mereka, belum ada yang menyentuh.
“Hatiku terlampau sakit karenanya,” Wati terisak, “ia telah mengianati cinta dan kesetiaan kuyung-ku, kakak kandungku! Tujuh belas tahun mereka hidup satu atap, tujuh belas tahun kakakku setia mendampinginya. Hingga ia meninggal pun cintanya tetap untuk istrinya. Apa semua tak ada artinya bagi wanita itu?”
Di luar langit gelap. Angin berembus sangat kencang. Sepertinya, sore ini akan turun hujan.
Hari-hari berganti, mereka tak menghadiri pernikahan ibunya. Bulan bertemu bulan, satu tahun pun terlewatkan. Edi telah menikah empat bulan lalu, pamannya yang menjadi wali pernikahan. Ibunya diundang, tapi beliau tak mau (mungkin tak berani) datang. Kini Romlah juga akan menikah, tiga minggu lagi. Bagaimanapun, ibunya masih hidup, dan beliau tetap lebih berhak untuk menjadi wali pernikahannya. Maka mereka kembali mencoba.
