“Bu maaf, kami numpang bertanya, rumahnya Pak Bulot yang istrinya bernama Baya di mana ya?” Edi bertanya kepada ibu-ibu yang lagi berkumpul di depan sebuah rumah.
(Ketika akan menikah beberapa bulan yang lalu, Edi memang hanya menitipkan undangannya saja – tidak menjumpai langsung. Ia menitipkan undangan tersebut kepada salah seorang kenalannya yang satu desa dengan ibunya. Sama seperti yang dulu ibunya pernah lakukan.)
“Oh, Bulot yang suka jual kerupuk itu ya, Nak? Yang kalau tak salah menikah setahun lalu?”
“Iya, benar Bu. Di mana ya rumahnya?” Romlah menimpali dengan bertanya.
“Di sana, Nak. Kalian jalan lurus, ada sebuah pengkolan sebelah kiri, masuk ke dalam. Lewat lima rumah, nah, rumah yang keenam itulah rumahnya Bulot. Ada pohon jambu air dan pohon mangga di depan rumahnya itu.”
“Oh, makasih banyak ya Bu.” Edi dan Romlah serempak menimpali, Samsul diam tak tergerak hati.
Tiba di muka rumah Pak Bulot. Ada suara beberapa lelaki yang nampak tengah serius bercerita. Edi dan kedua adiknya segera menaiki tangga rumah panggung yang setinggi dua meter itu.
“Jika kalian mau tahu,” seorang pria kurus tua juga agak hitam berbicara, “ sesungguhnya Edi dan kelima adik-adiknya itu, aku inilah yang menafkahi hidup mereka. Biaya Edi menikah, biaya hidup mereka sehari-hari, biaya sekolah Adit, aku inilah yang rutin membiayai dan mengirimi. Bahkan, sebelum aku menikah sama Baya, anak-anak itu numpang hidup dari aku.”
Bulot begitu asik berbicara kepada teman-temannya tanpa sadar Edi, Samsul, dan Romlah telah berdiri di muka pintu.
“Tapi, ya memang dasar anak-anak yang telah kehilangan didikan orang tua. Ya, bayangkan saja, mereka tak sekolah, bapaknya meninggal saat mereka masih kecil. Makanya mereka tak tahu etika dan tak punya rasa terima kasih. Mereka hidup dari saya, tetapi malah membenci saya gara-gara mengawini ibunya.”
Panas mentari begitu terik. Merah padam muka ketiga saudara itu mendengar bualan Bulot.
“Hei, keparat! Kami memang tidak sekolah, tetapi kami jauh lebih punya etika dari pada Anda. Dasar pembual tua bangka!” mulut Samsul lantang berkobar.
Bulot yang tadi duduk membelakangi mereka, kontan saja langsung menoleh ke arah belakangnya. Kedatangan ketiga anak tirinya yang tak ia sangka-sangka telah membuatnya terkejut dan wajahnya mendadak suram.
Samsul yang tadinya, satu jam yang lalu telah berusaha memaafkan dan berniat untuk dapat menerima ayah tirinya, kini mendengar ucapan itu sontak panas kupingnya, tersulut amarahnya. Kini ia begitu murka, sudah lama memang ia memendam emosi untuk menghajar lelaki tua itu. Beberapa hari terakhir ini Samsul memang telah berusaha memaafkan demi kembalinya kebersamaan dalam keluarga mereka yang dulu. Namun, ocehan yang baru saja ia dengar tadi, seolah menguahi api dengan bensin. Dan kini, tak terbayangkan betapa ganasnya amarah itu.
