Samsul menggeram, Bulot pucat gemetar. Ia siap menerkam. Namun, sebelum Samsul sempat menghajar, Edi melompat lebih dulu menerjang dada Bulot. Teman-teman Bulot kaget bukan main. Suara berdebam. Meja kayu patah. Tubuh ringih itu tiada daya.
“Celaka, dia mati,” gumam Edi dalam hati. Amarahnya mendadak sirna, takut dan sesal menguasai dirinya. Dalam kebingungan Edi teringat ucapan ayahnya dulu, “Dapatkah menerka hidup manusia?” Sepersekian detik dari sekarang teman-teman Bulot dapat saja memukulnya atau menembaknya tepat di dada. Ia pun punya kesempatan untuk berlari meninggalkan keluarga dan kemungkinan lainnya adalah di penjara”. Duh, gusti begitu lekas ia pergi.
Sekayu, 14 – 16 Januari 2013
Keterangan
1 paman

Biodata Penulis
Herdoni Syafriansyah lahir di Kayuara – Musi Banyuasin, Sumatera Selatan, 7 Oktober 1991. Pendiri Perkumpulan Seni, Sastra dan Budaya Arus Musi (ARSI) Kabupaten Musi Banyuasin. Menghadiri seminar Pertemuan Penyair Nusantara (PPN) V di Palembang (2011), Temu Sastrawan Indonesia (TSI) ke-4 di Ternate Maluku Utara (2011), dan Pagelaran Sastra Lisan Balai Bahasa Sumatera Selatan (2016). Puisi dan cerpennya dipublikasikan beberapa media cetak seperti Majalah Sastra Horison, Dinamika News, Tembilang Jambi, Sumatera Ekspres, Berita Pagi Sumsel, Harian Musi Banyuasin, Majalah Pemprov Sumsel Young –G, Majalah Muba Randik, dan ragam media cyber sastra lainnya. Buku pertamanya yang sudah terbit, antologi puisi berjudul: “Aku Burung dan Kau Pisau yang berputar” (Digna Pustaka, 2012). Karya-karya puisinya juga termuat dalam beberapa antologi bersama lainnya seperti: Perahu Kelebu (Hasfa Publishing, 2011), 125 Puisi Pahlawan FSBP (UmaHaju, 2011), Tuah Tara No Ate (Ummu Press, 2011), Munajat Tugu Bundaran (Digna Pustaka, 2014), dan lainnya.
