Senja itu begitu ringan, angin berembus begitu sejuk. Malam ini malam pertama di Sekayu. Tiada ayah menemani. Tiada lagi suami di sisi. Hati yang sepi di tengah kota yang ramai.
“Yung, Kuyung, mengapa kita pindah ke Sekayu?”
Edi hampir terlelap ketika Sumi, adiknya yang pertama mengguncang-guncang bahunya. Edi menatap sekitar, semuanya telah tidur. “Sum, kenapa kamu belum tidur?”
“Sumi, indu dingen Abah, Yung.” (Sumi rindu sama Abah, Kak.)
Tebing itu runtuh, arus sungai mengalir deras. Begitu lekas ia pergi. Teringat saat lelaki yang disebutnya Abah itu pulang membawa ikan saban sore saat air pasang; teringat saat Abah mengelus rambutnya sebelum pergi ke ladang; teringat saat makan bersama sekeluarga; teringat malam-malam penuh canda dan cerita, teringat… Ah, begitu banyak ingatan itu, begitu banyak kenangan itu. Kini, berlalu.
“Sama, Dik. Kuyung juga sangat rindu. Teramat rindu kepada Abah”.
“Kenapa kita pindah ke sini, Yung?”.
“Kata Umak, untuk mengubah nasib, Dik,” Ujar Edi, “Barangkali kita bisa hidup lebih baik dan kalian bisa sekolah yang tinggi. Dan kita sama-sama akan bahagia.
Sumi tersenyum mendengar kata bahagia. Sebagai bocah sebelas tahun yang selalu tinggal di desa, hanya kata bahagia itulah yang menarik minatnya. Bahagia adalah sesuatu yang asik dan menyenangkan, begitu pikirnya.
Namun, senyum Sumi hanya terkembang sesaat, lalu ia cemberut lagi.
“Yung, Sumi sekarang tidak punya teman lagi.” Sumi merengut, ia menggamit bibir dan memilin rambut hitamnya. Matanya terus memandangi rambut itu, ternyata rambut itu sudah begitu panjang. Edi tersenyum melihat adiknya. Saat cemberut, Sumi terlihat manis.
“Sudah, jangan sedih. Nanti, Sumi pasti akan dapat teman baru di sini. Sumi ‘kan anak baik, pasti gampang dapat teman. Ayo, Sumi senyum dan kembali tidur ya!”
***
Sepuluh tahun telah berlalu sejak kejadian itu. Napas kehidupan memang penuh dengan misteri. Sumi telah menikah dan mendapatkan seorang suami yang baik. Edi kerja banting tulang untuk menghidupi dirinya dan keempat orang adiknya yang tersayang. Mereka mengontrak sebuah rumah, tak jauh dari rumah bibinya – Bi Wati. Edi kerja menjadi penarik becak, pergi pagi pulang malam hari.
Baya, orang yang dahulu sangat mereka sayangi – yang biasa mereka panggil Umak – sudah hampir tujuh bulan meninggalkan mereka dan minggu depan akan menikah dengan seorang duda tua yang tak punya apa-apa. Samsul adalah adik Edi nomer dua, di bawah Sumi, ia begitu membenci ibunya kini.
“Perempuan gila. Umur sudah lima puluh, masih mau menikah lagi. Apa ia tidak lihat delapan tahun Yung Edi kerja mati-matian? Apa tidak peduli sama Adit yang bentar lagi bakal tamat SD? Apa tidak kasihan sama Sari sama Romlah, masih lima belas dan tujuh belas tahun tapi tak punya lagi Ayah dan Ibu? Apa dia tidak ingat perjuangan bersama almarhum Abah? Sinting! Tak ada Ibu yang begitu sinting!”
