Monday, May 10, 2021
Home > Literasi > Opini/esai > Saatnya Mewujudkan Keadilan Gender bagi Perempuan Pedesaan

Saatnya Mewujudkan Keadilan Gender bagi Perempuan Pedesaan

Saatnya Mewujudkan Keadilan Gender bagi Perempuan Pedesaan

Perempuan pedesaan merupakan subjek yang juga dilindungi dalam DUHAM (Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia) oleh PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa). Secara khusus, hak-hak perempuan pedesaan tercantum dalam CEDAW, yang merupakan sebuah konvensi penghapusan diskriminasi terhadap perempuan. Di Indonesia, ternyata telah meratifikasi konvensi tersebut ke dalam Undang-Undang No. 7 Tahun 1984.

CEDAW menyebutkan bahwa hak asasi perempuan merupakan hak yang dimiliki oleh setiap perempuan, baik karena ia seorang manusia maupun sebagai seorang perempuan. Begitu pula dengan perempuan pedesaan. Secara khusus, hak-haknya terdapat pada pasal 14 CEDAW, yaitu hak berpartisipasi dalam pembangunan pada semua tingkatan, baik perencanaan maupun implementasi, hak memperoleh layanan dan informasi serta fasilitas kesehatan termasuk keluarga berencana, hak untuk berkumpul dan membentuk kelompok, hak memperoleh jaminan sosial, hak untuk menikmati kehidupan yang layak, hak untuk meperoleh kredit dan hak perlakuan yang sama dalam bidang land reform serta pertanahan, hak untuk mendapatkan penyuluhan dan pendidikan formal maupun informal, dan hak untuk berpatisipasi dalam kegiatan kemasyarakatan.

Sekian lamanya, hak-hak perempuan tersebut hanya berada di atas kertas. Pada faktanya, tidak mudah bagi perempuan pedesaan mendapatkan haknya. Kultur suatu komunitas pedesaan terkadang kental dengan budaya patriarki: memiliki pandangan yang menyubordinat, mendiskriminasi, serta memarginalkan perempuan pada urusan-urusan publik. Alasan-alasan inilah yang menyebabkan perempuan pedesaan kerap terkungkung di ranah domestik atau rumah tangga saja, sedangkan hak-haknya sebagai manusia yang sama dengan laki-laki kerap terabaikan.

Perempuan pedesaan juga kerap terabaikan pada masalah pembangunan sehingga upaya pembangunan yang ada belum pernah menyentuh apa yang dirasakan perempuan pedesaan terhadap lingkungannya. Pembangunan pun akhirnya tak memberi manfaat bagi perempuan pedesaan. Seiring dengan itu, perempuan pedesaan juga kerap tak dapat menikmati hasil pembangunan. Padahal, masalah kemiskinan terbesar dialami oleh perempuan pedesaan. Pada kondisi paling miskin, perempuan pedesaan jauh pada ambang batas kemiskinan yang paling manusiawi sekalipun.

Facebook Comments