Friday, May 22, 2026
Home > Literasi > Cerita > Tuyul

Tuyul

Tuyul

“Kamu peliharaan siapa?” tanyaku membentak.

Dia terkekeh. Makin jelek tampangnya.

“Kamu ini tuyul atau bukan? Punya siapa?”

Dalam peganganku ia mengangguk, lalu menoleh ke belakang. Tangannya yang panjang menuding pada sebuah rumah, bibir hitamnya turut mengerucut.

Bocah itu hilang setelah mengakui Nyai Neti sebagai majikannya.

Suamiku marah besar saat kuceritakan pengalamanku besok paginya.

“Nanti nenek itu lagi yang merasa difitnah, jangan membuat masalah!”

“Saya kan tidak cerita ke siapa-siapa selain suami sendiri,” belaku.

“Yakin tidak akan keceplosan?” tanyanya sangsi.

“Kali ini tidak akan, saya kapok.”

“Baguslah. Tolong belikan sebungkus nasi gemuk di sana. Saya yakin tuyul itu bohong.” Sudah marah malah menitah.

Belum lagi aku sampai di warung Nyai Neti, Bu Nani menarikku saat melintas di depan rumahnya.

“Bu Menik, semalam saya ketemu sama anak kecil yang Bu Menik lihat dulu.”

Hff, kutarik napas dan kulepas kuat. Agar ia tahu, aku tak suka. Sebentar saja, Bu Paras dan ibu-ibu lain menyusul, kembali mengerumun. Kalau sudah begini, aku lebih suka jadi wanita karier saja. Daripada mengurusi hal tak penting, tapi kita telanjur terjebak di dalamnya.

“Tahu tidak, Ibu-ibu. Tuyul itu berlari ke rumah Nyai Neti.”

Aku menelan ludah.

“Setelah itu, dia keluar dari jendela. Di tangannya ada segepok uang, trus dia lari ke rumah Bu Paras. Sepertinya setor gitu!”

Semua terbelalak, terutama Bu Paras, tentunya.

“Jangan macam-macam, Bu Nani!” bentak Bu Paras langsung.

Bu Nani malah nyengir.

“Pasti situ bohong, paling kalau ketemu yang begituan Bu Nani langsung kabur,” tambah Bu Paras.

“Nah, itu dia. Saya ketemunya dalam mimpi.” Bu Nani tergelak. Sementara koor ‘huu’ segera membubarkan keramaian.

Aku lega, tapi pada ujungnya bingung. Sengaja melangkah lambat-lambat menuju warung Nyai Neti, untuk mengingat dengan cermat, yang tiap pekan datang itu, mimpi atau nyata?

Aku bertemu tuyul?

Menangkap tuyul?

Yang benar saja!


[1] Sarapan populer di Jambi. Semacam nasi uduk, dimasak dengan santan, dihidangkan dengan taburan kacang dan teri

Syarifah Lestari, cerpen-cerpennya tersebar dalam koran lokal maupun nasional. Buku kumpulan cerpennya berjudul Pangeran dalam Dua Bekas Sujud (Master Publishing, 2012). Novelnya berjudul Jemput Aku ke Pelaminan (Salim Media, Indonesia, 2015).

Translate »