Nyai Neti seketika terbelalak. “Apa-apaan kamu, Menik!”
“Coba Nyai ceritakan ulang cerita saya ke Nyai,” tantangku. Satu orang lagi mukanya pucat di warung itu.
Malamnya, ketegangan di masjid membuatku sedikit lega. Salah seorang ustadz yang menjadi pengurus masjid menolak diadakannya sumpah pocong. Kata Pak Ustadz yang sering menjadi imam masjid itu, sumpah pocong tidak sesuai syariat, tidak ada dalam Islam. Meski pengurus masjid yang lain setuju agar diadakan sumpah pocong untuk menenangkan warga, Pak Ustadz tetap mempertahankan pendapatnya. Apalah arti ketenangan warga jika dalil sudah bicara.
Sementara aku masih di rumah, menunggu keputusan mereka. Suamiku lebih memilih pulang untuk menyiapkan mental istrinya.
“Memangnya Ibu sering kehilangan uang?” ia tahu istrinya tegang.
Aku menggeleng.
“Ibu-ibu yang lain?” tanyanya lagi.
“Tidak tahu.”
“Berarti ini cuma gosip, kan?”
Aku mengangguk.
“Ibu tidak lihat tuyul, kan?”
“Saya tidak tahu itu tuyul atau bukan. Yang jelas dia anak kecil, botak, tangannya panjang. Dia jelek dan bisa hilang.”
Suamiku menghela napas. “Jadi bagaimana? Sebentar lagi azan Isya, saya pasti ditanya sama pengurus masjid.”
“Ya tidak usah ke masjid,” jawabku asal.
“Masak laki-laki solat di rumah.”
Lama kami berdiam, sampai kemudian azan berkumandang dan suamiku ke masjid dengan penuh kecemasan.
Ustadz yang seorang itu menang. Sumpah pocong dibatalkan, tidak ada tuyul, tidak ada hantu. Aku mengalah saja dianggap berhalusinasi. Suasana lorong kembali tenang. Seorang wartawan koran lokal yang kurang berita datang ke rumah untuk wawancara. Belum lagi ia mengeluarkan pulpen, suamiku sudah mengusirnya. “Jangan mengail di air keruh!” bentaknya pada wartawan itu.
Warung Nyai Neti mulai berkurang pengunjungnya, lebih normal seperti yang lalu-lalu. Aku pun enggan ke sana, Sofiah malah tak pernah sejak ia menjadi warga baru di lorong ini. Benar juga, mungkin ia menyiapkan sarapan sendiri. Anak-anak Sofiah pun jarang terlihat jajan seperti anak-anak lain.
Ini hari terakhir dalam pekan aku tidak bertemu si bocah aneh pembuat keributan itu. Nanti malam hari ke tujuh. Aku berharap tak lagi didatangi, tapi bersiap dengan rencana penting terhadapnya.
Malam hampir sempurna, sebelum tidur kupastikan seluruh pintu dan jendela terkunci. Tiba di pintu dapur, daunnya bahkan belum tertutup. Begitu gagang kupegang, sebuah wajah menyembul di balik pergelangan tanganku.
Sigap kutangkap kepalanya. Mungkin ia lupa bahwa setiap ia datang, aku tak pernah gentar apalagi ketakutan. Kuangkat bocah aneh itu, seringainya kian mengerikan. Dua tanganku di lehernya.
