Monday, May 25, 2026
Home > Literasi > Cerita > Tanpa Banyak Kata

Tanpa Banyak Kata

pasangan dengan bunga1

“Kamu suka novel itu?” tanya seorang lelaki padamu.

Kamu hanya tersenyum kaku. Berusaha menghindari percakapan singkat itu.

“Aku juga suka banget novel itu. Ceritanya sederhana, tapi disajikan dengan cara yang luar biasa. Penulisnya hebat. Dia berhasil membuatku tersenyum dan menangis dalam satu helaan napas yang sama,” tanpa persetujuanmu lelaki itu merangkai kata, mengomentari novel di tanganmu.

Sekali lagi kamu hanya tersenyum. Malas merangkai kata untuk menanggapi komentarnya. Tanpa sepatah kata pun kau meninggalkan lelaki itu.

“Aku Ardi, siapa namamu?” belum jauh kau melangkah, lelaki itu mengenalkan diri. Tanpa basa-basi bertanya namamu.

“Adira,” katamu pendek.

Kamu menganggap pertemuan itu biasa saja. Sebatas angin yang menerpa wajah lantas berlalu. Kamu melangkah menuju kasir, mengeluarkan uang seratus ribu, menebus novel itu. Tanpa banyak kata, keluar dari toko buku terbesar di kota ini.

Setibanya di rumah, kamu melahap novel barumu. Kamu teringat ucapan lelaki itu, ia benar novel ini benar-benar menguras perasaan. Setiap lembar menyimpan kejutan.  Sepertinya malam ini tidak akan tidur cepat-cepat.

Malam mendekati puncaknya, dan kamu masih terjaga. Kamu berhenti membaca saat tiba di halaman 175. Bukan. Bukan karena tidak tahan menahan kantuk. Tapi karena cerita di novel itu seperti menceritakan kisahmu. Ya, cerita tentang anak perempuan yang dikhianati janji masa depan. Ditinggalkan oleh seseorang yang sangat dicintainya. Hidup dalam sepi yang menyayat hati. Tanpa diminta air berjatuhan dari mata cokelatmu. Perlahan mengalir di pipi. Menggenang di dagu. Jatuh ke bumi. “Ya Tuhan, kenapa kenangan itu kembali lagi?” lirihmu.

***

“Eh kita ketemu lagi, Adira,” sapa lelaki berkaca mata, “Masih ingat aku kan? Minggu kemarin kita bertemu di sini,”

“Iya.”

“Gimana novel yang kemarin? Pasti seru ya bacanya hehe…. Aku suka sekali sama penulisnya. Pertama kali membaca bukunya, aku langsung tertipu. Kirain dia perempuan, eh ternyata laki-laki. Nama pena-nya mirip cewek india, haha…,” Lelaki itu melempar gurauan. Merasa sudah akrab denganmu.

Kamu hanya tersenyum menanggapinya. Beberapa detik kemudian sibuk memindahkan pandangan pada buku yang berjajar rapi di rak buku. Menghindar dari lelaki itu, menganggapnya tidak ada.

“Kamu sering datang ke toko buku ini ya?”

“Iya,” jawabmu singkat. Selalu saja singkat.

“Pantas saja saat aku tanya ke pelayan toko, dia langsung tahu orang yang aku maksud. Oh iya, aku baru dua minggu tinggal di Bandung. Sepertinya kita akan sering bertemu di sini. Soalnya aku hobi banget baca buku. Bahkan, aku berkeinginan mempunyai perpustakaan pribadi.”

Translate »