Monday, May 25, 2026
Home > Literasi > Cerita > Tanpa Banyak Kata

Tanpa Banyak Kata

pasangan dengan bunga1

Kamu menoleh padanya. Mengernyitkan dahi, meminta penjelasan.

Beneran, sedari dulu aku menyukai buku. Bagiku membaca adalah cara untuk menjelajahi dunia. Ya, aku bisa mengelilingi semua tempat hanya dalam satu waktu. Hanya duduk bertemankan buku… Meskipun buku yang aku miliki belum banyak, tapi cukuplah untuk memenuhi rumahku yang baru,” panjang lebar lelaki itu memberi penjelasan.

“Berarti kita punya keinginan yang sama,” kamu tersenyum.

“Wah! Serius? Biasanya kalau aku cerita ke orang lain perihal perpustakaan pribadi, mereka tertawa, tak lupa mengejek dengan sebutan kutu buku hehe….”

“Aku juga sering disebut kutu buku sama teman-temanku. Tepatnya si wanita kutu buku yang mistierius,” kamu kembali tersenyum.

“Haha, kalau aku disebut si kutu buku yang bawel.”

Kamu pulang dengan sisa tawa yang menggantung di bibir, setelah beberapa jenak membicarakan banyak hal mengenai dunia buku dengan lelaki berkaca mata itu. Buku favorite, penulis favorite hingga kesibukan menulis. Kamu memberitahukan pada lelaki itu sebuah rahasia yang sepuluh tahun lamanya disembunyikan.

“Raida? Penulis terkenal itu? aku kira dia itu sudah tua, ternyata masih muda.” lelaki itu tidak percaya kalau Raida adalah dirimu.

***

Benar saja apa yang diucapkan lelaki itu, setiap minggu kamu bertemu dengannya. Perlahan tapi pasti dia bisa membongkar pertahananmu. Kamu jatuh dalam percakapan-percakapan yang mengasyikkan. Dia selalu memulai percakapan. Tidak peduli jika kamu hanya diam, memperhatikan.

“Adira, makan bareng yuk!” ajak lelaki itu setelah lima kali berjumpa denganmu.

“Eh?”

“Aku lapar nih. Masa kamu tega membiarkan si kutu buku yang bawel ini makan sendiri. Kali-kali temani akulah,” lelaki itu tidak pernah menyerah meskipun tiga kali sebelumnya kamu menolaknya.

“Emm…,” belum sempat kamu menyelesaikan perkataanmu, lelaki itu sudah lebih dulu melangkah.

Tanpa sadar kamu mengikutinya. Menemani lelaki itu makan. Aneh. Untuk pertama kalinya kamu membuka diri pada orang lain. Bercakap-cakap banyak hal dengan lelaki yang bahkan baru beberapa kali bertemu denganmu.

“Aku pindah ke Bandung karena ingin melupakan masa lalu,” sambil menyendok nasi goreng, lelaki itu memulai percakapan.

Kamu menatapnya. Masa lalu?

“Bertahun-tahun ayahku sakit parah. Berbagai macam pengobatan telah dicoba…,” lelaki itu menggantungkan kata.

Kamu berhenti menyendok nasi goreng, serius menatap lelaki itu. Terus?

“Pengobatan yang dijalani Ayah memakan kocek yang luar biasa. Perlahan tapi pasti, harta kami terkuras. Puncaknya Ayah dibawa ke Singapura. Sebagai tebusannya toko satu-satunya sumber keuangan keluarga dijual.” Lelaki itu diam sejenak. Menyedot jus jeruk yang membeku di sebelah piring.

Translate »