Monday, May 25, 2026
Home > Literasi > Cerita > Tanpa Banyak Kata

Tanpa Banyak Kata

pasangan dengan bunga1

Lelaki itu berusaha mengatur napasnya. Kamu pun melakukan hal yang sama, dari tadi menahan napas demi mendengar setiap kata yang keluar dari mulut lelaki berkacamata di hadapanmu.

“Akan tetapi semuanya sia-sia…,” lelaki itu menghela napas panjang, “Tepat saat matahari masih malu menampakkan sinarnya, Ayah telah pergi meninggalkan kami untuk selamanya.”

Tempat makan di pinggir jalan itu lengang beberapa saat.

“Aku pindah ke Bandung karena tidak tahan melihat Mamah yang selalu menangis. Tidak peduli airmatanya sudah kering sejak lama, dia terus saja menangis. Dia tidak bisa menerima kalau Ayah sudah pergi meninggalkan kami selama-lamanya. Semoga saja dengan pindah ke sini, Mamah bisa menerima kepergian Ayah. Berhenti mengingat kejadian yang menyakitkan itu.” Lelaki itu kembali melanjutkan ceritanya.

Kamu diam seribu kata. Tanpa sadar matamu pun ikut basah. Kamu tahu betapa sakitnya ditinggalkan orang yang sangat disayangi.

Suasana hening beberapa saat.

Lelaki itu menyendok nasi goreng. Kamu hanya menatapnya tak berdaya.

“Aku juga pernah mengalaminya. Kehilangan seseorang yang sangat aku cintai,” tanpa aba-aba rangkai kata-kata itu keluar dari mulutmu, membuat lelaki itu mengalihkan pandangannya padamu, berhenti menyendok nasi goreng yang tinggal beberapa sendok lagi.

“Ya, Ayahku meninggal dunia. Kalau saja aku tidak meminta Ayah untuk membeli buku baru, malam itu pasti Ayah baik-baik saja. Tidak akan ada kecelakaan yang merenggut nyawanya. Ya, aku yang membunuh Ayah. Aku yang memaksanya datang ke toko buku. Demi membeli buku sialan itu!” Suaramu serak. “Ya, aku yang membunuh Ayah.”

Suasana di tempat makan pinggir jalan itu berubah. Waktu seakan berhenti.

“Bodohnya aku hanya bisa menangis. Pagi, siang dan malam airmataku tidak kunjung hilang. Mengadu pada lembaran kertas menyesali betapa bodohnya aku.” kamu diam beberapa saat. “Selepas Ayah meninggal, Ibu sedikit gila. Menangis tiada henti meski tanpa airmata.” Kamu kembali menghela napas panjang. “Dua tahun setelah Ayah pergi, Ibu menikah lagi. Dan itu menjadi bencana dalam hidupku,” lanjutmu.

“Bencana?” lelaki itu menyelidik.

“Iya, bencana. Ayah tiriku itu gila. Hampir setiap hari Ibu disiksa. Dan aku hanya bisa menangis saja. Tidak berdaya melawannya.” Airmata tidak bisa lagi kamu bendung. Bagai daun kering yang berguguran diterpa angin.

“Sabar ya, aku yakin kamu bisa menghadapi semua ini. Seperti Raida, perempuan yang kamu ciptakan. Perempuan berhati baja!” Lelaki itu tersenyum mencoba meredakan kesedihanmu.

“Dan satu lagi, sekarang kamu tidak sendiri. Aku bersedia menemani, kapan pun dan di mana pun.”

Translate »