Wednesday, May 19, 2021
Home > Gaya Hidup > Komunitas > Melihat Sisi Lain Kehidupan di Palembang Movie Club

Melihat Sisi Lain Kehidupan di Palembang Movie Club

Food, Fashion, and Movie merupakan bagian yang tak terpisahkan dari budaya populer abad ini. Sebuah budaya mainstream yang diproduksi oleh ideologi kapitalis beserta turunannya, maupun jejaringnya yang selalu mengupayakan keuntungan semata di atas kesenangan dalam segala hal.  Ketiganya menjadi ikon penanda pada identitas seseorang dan tak dapat dipisahkan pada budaya populer, pun saling mempengaruhi satu sama lain.

Namun di antara ketiganya, movie atau film menjadi salah satu media arus utama yang sangat berpengaruh besar untuk merasuki alam bawah sadar manusia modern. Oleh karena itu, film di abad ini menjadi media yang memberikan wadah transformasi ideologi, sekaligus pertarungan antar ideologi. Era digital hari ini semakin menguatkan hal tersebut, apalagi ketika budaya membaca mulai memudar oleh generasi yang memuja audio visual  di era ini.

Film pun menjadi seperti apa yang Ferdiansyah Rivai kutip dari film Cin(T)a besutan sutradara Sammara Simanjuntak, tahun 2009, “Kalau seandainya Nabi Muhammad turun saat ini, pasti kitab sucinya berbentuk film. Karena generasi kita adalah generasi yang got philosophie in a movie. Mereka nggak begitu tertarik baca buku.” Maka, bagi salah satu pendiri Palembang Movie Club (PMC) ini, film dapat dianggap sebagai tempat untuk mencari gizi kehidupan dan berguna sebagai pelengkap anasir filosofi yang dibingkai di dalamnya.

Akan tetapi,  film sebagai tempat untuk mencari gizi kehidupan tak selamanya memenuhi kedalaman filosofi pada ruang dan waktu tertentu bagi insan yang selalu haus makna, pencarian, maupun penanda. Apalagi ketika kegelisahan berjumpa dengan kedangkalan film yang kerap di produksi oleh mesin kapitalis dan hanya sekedar memenuhi target pasar. Untuk itulah, perlu ada ruang alternatif bagi pecinta dan penikmat film yang selalu haus ini.

Facebook Comments