Wednesday, May 19, 2021
Home > Gaya Hidup > Komunitas > Buletin Lavonten: Komunitas Menulis Kekinian di Batanghari

Buletin Lavonten: Komunitas Menulis Kekinian di Batanghari

Komunitas Menulis Kekinian di Batanghari

Sahabat Puan pernah mendengar mengenai Buletin Lavonten? Jika belum, maka puan.co akan mengupas tentang komunitas tersebut supaya bisa mengenalnya lebih dalam. Komunitas ini baru berdiri pada 16 Agustus 2016 di SMAN 10 Batanghari, Provinsi Jambi. Bulan Agustus 2017 lalu, buletin ini baru menginjak usia 1 tahun.

Komunitas tersebut dibentuk oleh Puteri Soraya Mansur, guru sejarah, dan enam siswa SMAN 10 Batanghari yaitu; Nur Khafid, Wanti Freti Mariyana, Elsa Nurcahya, Anedya Ayu Anggraini, Anjellie Dasviana Putri dan Yolanda Eka Safitri. Ide pembentukan ini muncul setelah SMAN 10 Batanghari yang tahun 2016 baru saja melakukan akreditasi dan memperoleh nilai A. Hanya saja, ada beberapa poin yang nilainya kurang, yakni ketiadaan buletin sekolah. Ibu Putri, sapaan akrab guru berperawakan mungil itu mengajak keenam siswa bimbingan Karya Ilmiah Remaja (KIR) itu membentuk buletin sekolah.

Di bangku semen depan Kopsis, mereka merancang nama dan slogan buletin sekolah. Mereka pun sepakat dengan nama Buletin Lavonten dengan slogan The Remarkable Story of School. Mereka berharap kisah-kisah yang tertuang dalam buletin tersebut tidak pernah terlupakan dan menjadi kenangan indah meskipun tahun berganti dan formasi anggota komunitas itu berubah.

Baca juga: Gubuk Literasi Padepokan Djagat Djawa

“Saya serahkan nama dan slogan kepada mereka (siswa-red) karena merekalah yang nantinya akan menjalankan buletin tersebut. Saya sebagai guru pembimbing bertugas untuk mengarahkan dan mengawasi kerja mereka. Selain itu, mereka lebih kekinian dibandingkan saya sehingga ide-ide segar bisa terus bermunculan,” kata Ibu Putri.

Perempuan yang menulis kumpulan cerpen Among-among bersama suaminya, Herma Yulis, kemudian menggaet salah satu guru Bahasa Indonesia, Dewi Wulansari. Ia berpendapat bahwa bekerja sama dengan guru Bahasa Indonesia lebih tepat karena pada umumnya masalah tulis-menulis dipegang oleh guru mata pelajaran tersebut.

Facebook Comments