Penonton pada kegiatan PMC yang kerap diadakan di kafe maupun di kampus pada setiap sore atau malam di waktu akhir pekan ini, datang dari beragam latar belakang kehidupan. Sehingga PMC ketika mengadakan kegiatan, tidak membatasi tema diskusi sehabis menonton film. Diskusi akhirnya dapat berupa muatan ideologi film, teknik sinematografi, hingga malah ada yang curhat karena merasa bahwa cerita film memiliki kesamaan dengan kisah hidup penontonnya.

Namun demikian, di internal PMC telah dilakukan diskusi terlebih dahulu sebelum melaksanakan kegiatan pemutaran film. Diskusi dapat mereka lakukan melalui sarana aplikasi elektronik Whats App, untuk menentukan apakah film yang menjadi alternatif pilihan diskusi layak untuk dimasukkan ke dalam agenda kegiatan. Pertimbangan yang mereka ambil dalam diskusi tersebut, dapat melihat kepada konten film, maupun terkait kepada momen tertentu, atau bisa juga melihat kepada isu yang berkembang di masyarakat.
Ferdi menyebutkan, bahwa tak ada kendala yang berarti dalam menjalankan PMC sebagai sebuah komunitas penikmat film. PMC dijalankan secara having fun tanpa target maupun program kerja. Meskipun akhirnya, melihat kepada aktivitas dan intensitas kegiatan PMC, pemerintah maupun Production House tertentu mulai banyak menggandeng PMC untuk bekerjasama dalam pemutaran film.
Pusbang Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, misalnya pernah menggandeng PMC untuk bekerjasama ketika memperingati Hari Film Nasional untuk memutar film Night Bus. Sedangkan Production House Four Colour Film, pernah menggandeng kerjasama dengan PMC untuk pemutaran film Turah. Kedua kerjasama ini bagi PMC dapat dijadikan pembanding, bahwa terkadang ketika bekerjasama dengan pemerintah, PMC harus menghadapi ribetnya birokrasi.
Pada bulan Mei 2018 nanti, rencananya PMC akan meluncurkan media online untuk menampung kegiatan kritik film yang telah mereka rencanakan. Ketika ditanya kegiatan jangka panjang, mewakili PMC Ferdi menyebutkan bahwa selain ingin menjadikan PMC sebagai bioskop alternatif di Palembang, inginnya PMC juga punya tempat dan program yang tetap seperti Kine Forum di Jakarta dalam pemutaran film yang rutin. Namun saat ini, PMC masih terkendala dana.
Soal dana tersebut, PMC pernah mencoba mengajukan ke Badan Ekonomi Kreatif (BEKRAF). Karena dirasa bahwa BEKRAF memiliki program pendanaan untuk komunitas. Apa daya, ternyata upaya PMC ditolak oleh BEKRAF karena PMC tidak memiliki legalitas berupa badan hukum formal. Mengenai hal ini, Ferdi menyebutkan sepertinya pemerintah tidak mengerti dengan terminologi komunitas dan spiritnya. “Karena upaya ke BEKRAF gagal, saat ini kita tengah mencari alternatif lain untuk pendanaan,” begitu pungkas Ferdi.
