Halaman: 1 2
“Hutan adalah hak orangutan. Itu rumah mereka, dan di sana mereka akan tumbuh. Mereka juga menjadi penyeimbang ekosistem karena hutan adalah rumah mereka yang sebenarnya,” kata Dhani.
Seharusnya, setiap satu bayi orangutan yang lahir akan mejadi tuan di tanahnya sendiri untuk mendapatkan hutan yang menjadi halaman rumahnya. Sayangnya, tujuh tahun adalah waktu yang sangat lama. Setidaknya setiap satu jam, lebih dari dua kali lapangan sepak bola hutan terus tergusur oleh pembangunan kelapa sawit. Tidak ada tempat bagi orangutan untuk mengklaim hutan tempat tinggal mereka sebab 10.000 hektare hutan yang seharusnya menjadi rumah mereka kini dipersempit menjadi 300 hektare oleh perusahan sawit.
“COP tidak berhak mengukur dan bicara soal hutan. Namun, soal rumah orangutan menjadi pengamatan kami. Selama ini, musuh orangutan adalah perkebunan sawit. Ketika rumah mereka menjadi kecil, mereka akan kebingungan dan pakan berkurang. Dalam kondisi tersebut, mereka juga akan setres,” jelasnya.
Tidak banyak yang dapat bertahan dengan kondisi tersebut, akhirnya mereka akan turun ke lokasi sawit dan memakan tunas kelapa sawit. Seketika itu ratusan orangutan akan dianggap hama dan kemudian mati di tangan pekerja. Lainnya lagi mati kelaparan di atas pohon terakhir yang dipertahankan dan beberapa bayi menjadi yatim karena ibunya mati di tengah tumbangan gusuran hutan.
“Banyak anak orangutan yatim piatu yang kemudian tersesat hingga ke lingkungan masyarakat. Bayangkan, mereka masih bayi dan belum bisa berpisah dari induknya. Jika terpisah, mereka tidak bisa apa-apa dan pasti seperti anak manusia yang kehilangan ibunya,” jelas Dhani.
Hutan konservasi yang dibesar-besarkan sebagai upaya penyelamatan orangutan dari dampak perkebunan sawit adalah bohong belaka. Jika saja semua orang bisa melihat ini secara langsung, mereka akan tahu betapa menyedihkan kondidi ini. Hutan-hutan ditebang dan diratakan, disisakan beberapa puluh hektare dalam bentuk spot-spot kecil di berbagai tempat, yang diklaim totalnya bisa mencapai ratusan hektare.
“Kekejaman dan kejahatan ini akan terus berlanjut, orangutan dan ribuan spesies lainya akan kehilangan rumah mereka. Jika saja para pengusaha perkebunan kelapa sawit dan masyarakat memahami konsep yang lebih baik untuk menyelamatkan orangutan dan hutan, maka kehancuran yang terjadi saat ini dapat dicegah,” pungkasnya.
