Monday, May 10, 2021
Home > Literasi > Pendidikan > Belajar Lucu dengan Serius: Buku Puisi Terbaru Hasta Indriyana

Belajar Lucu dengan Serius: Buku Puisi Terbaru Hasta Indriyana

Teknik Bermain

Hasta Indriyana, penyair kelahiran Gunung Kidul, 31 Januari 1977, ternyata telah melahirkan banyak buku. Buku puisinya yang terbaru berjudul Belajar Lucu dengan Serius telah beredar di TB Gramedia seluruh Indonesia sejak 11 September 2017. Buku ini dijual seharga Rp 40.000,00. Bila Sahabat Puan makan di restoran, menghabiskan nominal uang demikian tentunya adalah hal biasa. Untuk ukuran buku puisi, dijamin tidak akan rugi jika ditukarkan dengan buku puisi terbaru Hasta Indriyana. Buku puisi ini sangat berbeda dengan puisi-puisinya terdahulu. Lantas apa perbedaannya?

Belajar Lucu dengan Serius yang berisi 62 puisi (ditulis dari 2013 – 2017) merupakan wadah kontemplasi tentang hal-hal kekinian. Tawaran estetik yang dimunculkan, yakni memberdayakan bahasa yang sederhana, tetapi mencoba menelisik kedalaman. Buku ini sangat ringan untuk dibaca dan sarat dengan unsur permenungan. Banyak istilah populer yang  disertakan. Pengaruh teknologi berkaitan dengan internet pun jelas tak bisa dihindari.  Beberapa di antaranya mengulik tentang hakikat sebuah bahasa, utamanya bahasa populer terkini.

Puisi-puisi dalam buku ini banyak mengisahkan situasi kekinian dan sepertinya akan disukai pembaca, terlebih pembaca yang bukan pencinta puisi. Hasta menulisnya dengan teknik bermain-main, meski Hasta tak pernah main-main saat menulis puisi. Hasta memilih tema dari hal-hal kecil di sekitar kehidupan yang ia alami, dan ini mungkin dialami oleh masyarakat kebanyakan.

Kisah awal penerbitan buku ini,  Gramedia melalui editornya, rupanya tengah mencari penyair untuk diterbitkan puisi-puisinya. Mereka mencari di halaman Kompas dan koran Tempo yang terbit tiap akhir pekan. Kebetulan puisi-puisi Hasta sering dimuat di dua koran itu hingga lahirlah Belajar Lucu dengan Serius.

Hasta telah jatuh cinta pada puisi sejak kelas dua SMP. Baginya, puisi adalah ruang berekspresi dan kontemplasi. Hingga kini pun, puisi mampu menghidupkannya.

Facebook Comments