Seketika aku hendak menaiki ambulans, seorang petugas melarangku dengan alasan yang tak logis. Keparat. Drama apa lagi ini? Baiklah, mungkin aku perlu mengambil jalan lain. Mobil ambulans melaju dan hilang di pengkolan jalan. Gawai sahabatku tertinggal di atas meja. Ternyata tidak diberi pengaman khusus, telepon genggam itu dengan mudah kubuka. Kulacak keberadaan lelaki itu. barangkali aku mampu menemukan jejaknya. Namun lagi-lagi aku salah, tak kutemukan sedikit pun riwayat obrolan mereka di semua pesan masuk atau di medsos lainnya.
Sungguh aneh. Rapat sekali hubungan mereka. Kubuka nomor telepon kontak di teleponnya, ternyata hanya ada satu nomor, yaitu nomorku. Keparat. Lelaki itu sudah menjadi bajingan kelas kakap di mataku. Barangkali saja hubungan mereka hanya disimpan dalam ingatan masing-masing.
Apa mungkin lelaki keparat itu telah menungguinya di rumah sakit? Bila saja aku melihatnya di sana, aku juga takkan berani mendekat. Selama ini, ia pasti juga sudah mengintaiku, sebab aneh saja mengapa aku dilarang petugas rumah sakit tadi, yang katanya selain keluarga pasien dilarang ikut. Apa mungkin lelaki keparat itu takut bertemu denganku? Kupikir tidak juga. Mungkin saja ia malas. Segala kecamuk tiba-tiba saja muncul di benakku.
***
Dengan nekat kuberanikan langkah kakiku menuju rumah sakit. Setelah tiba di ruangan, seorang bayi perempuan mungil berbaring di sampingnya. Perempuan itu tersenyum kepadaku. Aku menghampirinya.
“Apa dia datang?” tanyaku padanya sambil mengelus punggung tangannya.
“Ya, tadi dia datang dan sudah memberi nama. Kembangsari. Nama yang cantik bukan? Secantik wajahnya,” katanya.
Aku hanya membatin. Sial sekali, lelaki keparat itu selalu selangkah di depanku. Ia memang lihai memenangkan perasaan perempuan. Kupikir, sudah saatnya aku memburunya, tetapi buat apa?
***
Beberapa tahun kemudian, lelaki itu sudah tak bisa dihubungi. Sudah kukatakan sejak awal bahwa dia keparat atau bajingan kelas kakap. Barangkali di luar sana, ia juga melakukan hal sama dengan perempuan-perempuan cantik lainnya. Melepaskan nafsu bejatnya kemudian menghilang ditelan angin.
“Kalau begitu, biar aku saja yang menjadi ayah dari anakmu,” kataku padanya.
“Jangan. Kamu jangan bertanggung jawab atas sesuatu yang tidak kamu lakukan! Biarkan. Biarkan aku mengenang anak ini, satu-satunya kenangan yang ia tinggalkan untukku. Biarkan aku menikmati hasil dari kesalahanku. Aku memang perempuan yang kalah, namun aku tak ingin membebankan kekalahanku kepadamu. Biarkan aku bahagia bersama Kembangsari,” katanya dengan lirih seolah menyimpan kesedihan yang tak ingin ia ungkapkan.
