Monday, June 1, 2026
Home > Literasi > Cerita > Kembangsari

Kembangsari

tengah hamil muda

Katanya lagi, ia merasa teduh berada dalam rengkuhan lelaki berdada bidang itu. Bahunya yang kekar juga salah satu tempat yang nyaman untuk bersandar. Aku masih diam seperti patung tua yang diabaikan. Tiba-tiba ada yang perih di balik jantungku. Namun, aku tak tahu bagaimana rasa sakit itu bisa muncul mendadak tatkala ia kisahkan kekasih gelapnya itu. Tak mungkin pula kuungkapkan isi hatiku padanya. Lalu kupaksa bibirku untuk melengkung meski kemarahan tersimpan di dalam dada. Rasanya aneh, tetapi apa hakku untuk marah? Aku juga tak pernah tahu.

***

Tak pantas saja, perempuan muda berwajah oriental itu menjatuhkan diri ke dalam pelukan lelaki beristri. Mengapa tidak jatuh ke pelukanku saja? Aku kan belum punya istri. Ah, barangkali aku kalah dengan harta yang dimilikinya, pikirku dengan ngawur.

Semenjak hamil, sahabatku itu semakin memikat saja. Jari-jemarinya panjang dan lentik. Bila ia mengembangkan senyum, rona pipinya merah muda seperti kuntum bunga sepatu. Matanya bening dan tajam. Tatapan matanya meneduhkan. Di atasnya berjajar lengkung alis yang indah bak semut beriring. Lehernya jenjang dan betisnya tipis. Indah sekali. Tubuhnya tinggi semampai bak seorang model. Pria yang memuja keindahan pasti akan terpesona tatkala menatapnya.

Sempat terlintas di kepelaku bila lelaki beristri itu memakai guna-guna. Demi menghilangkan penasaran akan sikap kolotku, lalu kudatangi beberapa dukun sakti. Saat itu kubawa foto perempuan itu juga rontokan rambutnya yang kucuri diam-diam. Dari dukun pertama hingga kesekian, entah mereka kompak atau bagaimana, katanya tak ada energi hitam yang melingkupi tubuhnya. Mereka pun mengatakan bahwa cinta mereka adalah murni yang berawal dari ketertarikan visual.

Ah, tolol sekali. Apa semua dukun itu telah berbohong kepadaku? Atau jangan-jangan, lelaki beristri itu telah menyuap dukun-dukun ini. Namun apa mungkin? Entahlah, rasanya juga mustahil.

***

Beberapa bulan telah berlalu. Perut sahabatku semakin membesar. Namun saat itu, tubuhnya tergolek lemah tak berdaya. Air ketubannya telah pecah. Sudah waktunya ia melahirkan. Dahinya mengernyit, ia pun merengek menahan sakit. Kucoba pula menenangkannya. Di saat seperti ini, kupikir lelaki keparat itu harusnya ada di sini. Namun, kenyataan memang sering berbeda dengan keinginan.

Kudengar suara sirine ambulans semakin dekat. Dalam hati aku berharap pula bila lelaki keparat itu akan datang. Nyatanya, hanya petugas rumah sakit yang bergegas membawa sahabatku ke dalam mobil. Brengsek. Ia benar-benar brengsek. Di saat genting begini masih menghilang.

Translate »