Sekarang, sebagian perempuan memang sudah mulai lepas dan memiliki kebebasan di satu kaki. Namun, kaki yang lain masih menapak pada pemikiran tradisi lama yang malah mengukuhkan pandangan bahwa perempuan itu inferior, tidak rasional, dan sangat tidak mandiri. Lalu ketika merasa bisa mandiri, arahnya agak kebablasan. Ketika perempuan berjuang, mereka seperti disadarkan pada kebebasan yang sayangnya tanpa memahami makna perjuangan itu sendiri.
Lalu kira-kira, apa ya yang membedakan karakter penulis perempuan dan laki-laki? Bundo Free menjelaskan bahwa dalam berkarya, perempuan banyak membicarakan peristiwa dengan tema yang melingkupi arena domestik, sedangkan lelaki lebih banyak bicara tentang arena publik. Jarang sekali perempuan menulis karya dengan tema politik atau perang. Mestinya kalaupun bicara tentang arena domestik, bila lebih menukik untuk menggugat ketidakadilan, perempuan perlu membangun citra baru. Tidak pula larut harus dengan tema perempuan korban. Ini justru mengukuhkan juga. Membangun tema yang menampilkan potensi perempuan cerdas.
Pandangan Bundo free tentang perempuan masa kini, yakni perempuan sekarang mengikuti zamannya yang semakin maju, di mana jarak tidak lagi menjadi masalah dan informasi mudah diperoleh. Mereka mendapat ruang untuk bergerak dengan lebih bebas. Lebih bisa mengembangkan diri dan masyarakat lebih bisa menerima. Ini berkat perjuangan kaum perempuan terdahulu yang memperjuangkan kesejajaran hak dan kewajiban dengan laki-laki. Sejajar, tetapi tidak sama. Kepahamam ini yang banyak tidak sungguh-sungguh dimengerti dan dipahami sehingga ada juga wanita zaman sekarang yang kebablasan. Ada nilai-nilai yang dipegang teguh oleh pendahulu kita, bergeser demikian jauh. Kebebasan yang kebablasan terkadang memunculkan tragedi baru. Perempuan harus memahami perjuangan itu, memahami diri sendiri, dan memahami pula tujuan hidupnya dengan cerdas dan kritis. Jangan asal ikut-ikutan!
Selain menulis, Bundo Free juga aktif berorganisasi. Saat ini, Bundo Free adalah ketua umum organisasi WPI (Wanita Penulis Indonesia). Beliau bergabung di WPI sejak 2008 saat Yvonne de Fretes menjadi ketuanya. Dahulunya, alasan Bundo Free bergabung di WPI karena merasa ada wadah untuk saling berbagi.
“Karakter utama yang harus dimiliki oleh pemimpin adalah kesabaran dan ketegasan. Organisasi tidak akan berjalan bila anggotanya tidak memiliki kesadaran tentang dedikasi, respek, loyalitas, dan tanggung jawab. Sebab organisasi sosial di wilayah kepenulisan bukanlah perusahaan milik ketua. Jadi, harus ada kesadaran bersama untuk membangunnya. Menjadi ketua umum WPI tidak harus seperti organisasi politik bahwa ketua harus mendanai semua kegiatan. Untuk itulah, kontrol ketua kepada anggota untuk menumbuhkan kesadaran berorganisasi adalah hal yang penting,” ungkap Bundo Free.
