Monday, April 27, 2026
Home > Sosok > FREE HEARTY: Citra Perempuan di Mata Penulis Laki-Laki

FREE HEARTY: Citra Perempuan di Mata Penulis Laki-Laki

SOSOK BUNDO FREE

“Ketika perempuan mendapat kesempatan bersuara, ini menjadi penting. Karena itulah suara yang otentik: suara hati dan pikiran kaum yang bersangkutan. Ini tentu saja menjadi penting dipelajari dan dibincangkan untuk mengenal perempuan lebih jauh. Akan terlihat dari karya-karya kritis perempuan bahwa mereka tidak seperti yang digambarkan para penulis laki-laki, yang masih mengikuti pola pemikiran budaya patriarki. Tidak lagi menjadi objek yang korban dan dikorbankan. Meskipun demikian, masih banyak juga para penulis perempuan yang bukannya menggugat citra yang dibangun untuknya, tetapi malah mengukuhkan citra seperti budaya tradisi tersebut. Hal ini pun perlu dibincang dan dipelajari. Dua kubu perempuan ini perlu dipelajari dan dikritisi. Karena ada pendapat bahwa perempuan pula yang melemahkan perjuangan para perempuan. Terutama para perempuan yang sudah duduk di zona aman. Merasa tidak perlu menggugat karena posisinya yang aman itu. Padahal, jutaan perempuan di luar masih saja terpinggirkan, termarginalkan, teraniaya, dan selalu jadi korban. Ini yang perlu diperjuangkan perempuan-perempuan yang kritis. Tidak hanya sibuk dengan diri sendiri. Perempuan harus berani dengan strategi cerdas!” kata Bundo Free sambil tersenyum.

Salah satu buku yang ditulis oleh Bundo Free berjudul “Kajian Perempuan Malaysia – Indonesia dalam Sastra”. Meski masih dalam satu rumpun melayu, yang membedakan karakter penulis perempuan Indonesia dan Malaysia adalah pengalaman, pemahaman, pemaknaan, serta imajinasi tentang semesta. Namun, persamaannya lebih banyak berkutat tentang tema yang sangat dekat dengan kehidupan perempuan, seperti kisah-kisah mengenai rumah tangga, pengkhianatan, dan kesetiaan. Hal ini tentu disebabkan oleh tradisi akar budaya melayu yang hampir sama.

Lalu, bagaimana posisi perempuan dalam sastra Indonesia? Menurut Bundo Free, perempuan sudah mulai mendapat tempat dalam sastra Indonesia. Hanya saja masalah yang timbul, tema-tema perempuan lebih banyak mengisahkan cerita domestik. Perempuan kebanyakan dianggap laki-laki sebagai “orang yang baru menulis” sehingga dalam beberapa seminar dan pertemuan, beberapa perempuan masih saja diperlakukan lebih rendah – dengan lebih menekankan keperempuanan penulisnya – bukan karyanya. Bahkan ketika membicarakan karya perempuan, laki-laki terkadang sedikit “melecehkan” dengan menyebut perempuan secara general. Akan tetapi, perlakuan semacam itu tidak terjadi bila yang dibicarakan adalah karya laki-laki.

Sebenarnya, perempuan itu berperan besar dalam kebudayaan, terutama untuk generasi penerus. Karena perempuanlah yang paling pertama dan utama dalam mendidik manusia. Perempuanlah yang lebih memiliki kesempatan untuk menanamkan nilai-nilai dan membentuk budaya manusia yang bisa ditanamkan sejak lahir. Dari perempuan, manusia pertama kali belajar banyak hal. Namun, bila perempuan masih belum bisa melepaskan diri dari cangkang tradisi lama – yang meminggirkan dan mengerangkengnya dalam “kebodohan” – maka perannya tentu tidak maksimal dan tidak tampak.

Translate »