Friday, May 22, 2026
Home > Literasi > Cerita > Tiga Tangis Perempuan

Tiga Tangis Perempuan

Tiga Tangis Perempuan

Mungkin dia sedang butuh didengarkan, tidak butuh nasehat apapun. Setidaknya itu yang ada dalam pikiranku saat ini. Aku melihat lagi pada matanya yang menatap kosong ke laut. Airmatanya meleleh, dia menangis tanpa suara. Dan aku tidak bisa menatap lama mata yang demikian. Seminggu yang lalu, ibu juga melalukan hal yang sama. Tentu aku tidak berani bertanya. Aku menunggunya sampai benar-benar tenang.

“Perempuan kaya yang jahat, jahat!”

“Sama jahatnya seperti Bapakmu.”

“Perempuan yang tidak tahu bagaimana perasaan seorang perempuan.”

Rupanya, ibu bertengkar hebat dengan bapak. Aku hampiri ibuku pelan kemudian memeluknya. Dadanya berdetak hebat. Ingin rasanya aku membunuh perempuan yang dibicarakan ibu. Atau paling tidak, aku ingin menjambak rambutnya karena dia telah melukai hati ibuku. Tapi aku sendiri tidak tahu siapa perempuan itu. Apa mungkin perempuan ini mengalami hal yang sama seperti ibu? Kalau memang iya, kasian sekali nasibnya. Aku semakin iba. Perasaan perempuan mana yang tak sakit jika mengalami hal yang sama seperti ibu. Ibu bahkan berkali-kali berdoa, “Semoga engkau dan adikmu tidak pernah bernasib sama seperti ibu.”

Aku memberanikan diri untuk melihat pada matanya yang tak lagi berair. Barangkali dia sedang berpikir. Apa yang selama ini terjadi pada hidupnya, bagaimana cara agar dia bisa keluar dari masalah yang dia hadapi, meski pun aku memang tidak pernah tahu persis apa yang ada di pikirannya, itu hal yang aku lakukan jika aku sedang menangis. Perempuan secantik dia seharusnya sedang dalam perjalanan liburan ke luar kota, atau sedang perawatan ke salon untuk rambut lurusnya. Ia terlalu cantik untuk menangis di tempat umum seperti ini.

“Kau mau ke mana? ” dia membuyarkan lamunanku.

“Eh, anu, ke Surabaya,” jawabku bohong.

“Terima kasih sudah menemani.”

Matanya berkaca-kaca. Ingin rasanya aku bertanya panjang lebar, Ibu kenapa?  Ada masalah apa? Ceritakan padaku, barangkali aku bisa membantu atau minimal aku bisa menjadi temanmu, kau bebas bercerita, berteriak dan melakukan apa pun padaku. Jangan hanya diam begini.

“Kau sudah menikah?” aku menggeleng.

“Kau akan tahu jika kau menikah nanti. Tapi semoga kau tak pernah bernasib sama sepertiku. Semoga tidak pernah.”

Dia menangis lagi. Sementara aku diam. Aku mengingat ibu.

“Itu juga yang sering ibuku katakan.”

“Benarkah?”

Aku mengangguk. “Jangan mencintai pria yang salah. Jangan!”

“Apa Ibu mencintai pria yang salah?”

“Tidak. Aku yang salah karena mencintainya.”

Bu, perempuan yang aku temui ini sama sepertimu. Ibu juga selalu berkata bahwa bapak bukan laki-laki yang salah. Tapi, dia tak sekuat engkau, bu. Aku menunduk agak lama. Ingatan-ingatan tentang pertengkaran ibu dan bapak, tentang aku dan adik-adik, tentang teriakan bapak dan tangisan ibu memenuhi kepalaku. Aku seperti berada di tempat pemutaran film yang pemeran utamanya adalah ibu. Kejadian-kejadian yang membuat hidup kami berantakan datang seperti slide yang silih berganti.

Translate »