Halaman: 1 2
Perempuan berwajah teduh ini, terlihat ramah ketika puan.co berkunjung ke galeri Rumah Batik Azmiah yang dia rintis. Lebih dari 30 tahun, Azmiah menggeluti usaha batik jambi. Kecintaannya pada batik Jambi sejak dia menginjak usia belia. Tampaknya, bakat membatik ini diturunkan dari mendiang ibunya, Asmah. Azmiah, menggeluti bisnis batik tersebut karena merasa bangga hasil batik perdananya laku terjual. “Awalnya membatik belajar di daun pisang, ga berani langsung di kain,” kenangnya.
Caba juga: Dina Adelya Pamerkan Textile Art Bertema Jambi di Ajang Internasional
Dia bercerita, dulu hasil membatik bisa diandalkan menjadi sumber penghidupan. Saat itu kecintaan masyarakat pada batik masih tinggi. Namun, seiring perkembangan zaman, teknologi pun semakin canggih. Batik cap mulai ramai dipasarkan, tentu saja harga yang ditawarkan jauh lebih rendah. Banyak para pengrajin batik yang mulai goyah dan beralih pada batik cap, menyesuaikan dengan selera pasar yang menginginkan batik murah dan praktis.
Azmiah tidak mau latah mengikuti geliat batik cap, dia tetap mempertahankan karya batik tulis. Dia tetap mempertahankan batik tulis sebagai usaha, di saat usaha batik tulis khas Jambi mulai kehilangan pendarnya, Azmiah tetap tekun dan selalu berinovasi. Dia berpikir, jika memilih bertahan dan menghidupkan budaya batik Jambi yang diperlukan adalah kreativitas. Dia terus melakukan kreasi motif-motif khusus. Tidak berhenti di sana, jika batik tulis Jambi cenderung dengan warna-warna yang terang. Azmiah melakukan perubahan dengan menggunakan pewarna alami. Azmiah bersama suaminya Edi Sumarto tak henti mencoba berbagai pewarna alami dari kulit kayu jelawe, lempato, sepang, dan secang. Menggunakan pewarna alami, tidaklah semudah pewarna buatan. Dibutuhkan kesabaran dan memakan waktu yang lama untuk mendapatkan hasil sempurna. Azmiah menyebutkan, dia harus berulang-ulang agar mendapatkan hasil yang menakjubkan.

“Kalau menghasilkan warna alami ini butuh waktu minimal tiga bulan, harus berulang-ulang,” katanya sembari memamerkan beberapa batik karyanya dengan warna indigo. Batik tulis Jambi dengan menggunakan pewarna alami dihargai Rp 1.000.000 hingga Rp 2.000.000,- per lembar kain seukuran 2 meter. Sebuah harga yang terbilang mahal, namun sesuai dengan barang yang diperoleh. Azmiah tidak pernah berpikir bagaimana persoalan pemasaran, karena dia yakin batik yang dihasilkannya memiliki pasar tersendiri. “Pasti ada penyuka karya seni, dan bagi saya batik karya saya ini juga sebuah karya seni. Pasarnya ya, orang yang menghargai hasil kerja keras, ketekunan dan seni,” ucapnya sembari tersenyum.
Baca juga: Lacak Jambi: Peluang Bisnis Tahun 2017
Azmiah mengaku, omset dari penjualan batik karyanya bisa mencapai 50 juta selama satu bulan. Dia pun gencar mengikuti kegiatan promosi melalui pameran-pameran. Bahkan, Rumah Batik Azmiah pernah menyumbangkan 25 kain batik tulisnya dengan pewarnaan alami pada Kiki Fikri, Ketua Asosiasi Perancang Model se-Jambi. Karya-karyanya tersebut ditampilkan dalam rangka perayaan ultah Provinsi Jambi sepuluh tahun yang silam.
