Saturday, May 23, 2026
Home > Literasi > Cerita > Nyanyian Subuh

Nyanyian Subuh

Asap sesajen

Blarrr!

Aku merasa wajahku hangat. Lidah api menari-nari dalam tungku. Mak segera meletakkan periuk berisi rendaman beras di atasnya. Begitulah kegiatan Mak setelah melakukan ritual Nyanyian Subuh. Ia segera berkecimpung di dapur. Sementara Bapak memekik-mekik memanggil ayam-ayamnya sambil membawa secangkir beras. Lalu dengan embusan napas putus asa, ia melempar beras itu ke tanah. Lelaki yang jarang berucap itu terlihat memendam kecewa. Ayamnya tak jua mau bertelur. Padahal ia mengharapkan rumahnya ramai oleh cuitan anak ayam.

Mereka percaya, subuh adalah pembuka rezeki. Angin segar di saat  subuh akan menggenggam nyanyian mereka dan membumbungkannya ke langit, dengan begitu langit akan melimpahkan kekayaannya. Tidur di waktu subuh dipercaya menjadi petaka bagi desa kami. Pernahku temui dalam pelayaranku, para wanita yang bangun di kala subuh, namun mereka tak bernyanyi. Jubah putih lebar menutupi seluruh tubuh mereka. Hanya wajah mereka yang tampak. Kemudian mereka berdiri, menungging, berdiri kembali, mencium lantai, duduk. Mereka melakukannya sebanyak dua kali. Lalu mereka membaca buku tebal dengan bahasa yang aneh, namun entah mengapa hatiku tenteram mendengarnya.

Kini, ada yang berbeda dari biasanya. Sekarang mereka tak hanya bernyanyi. Buah-buahan segar, ayam panggang serta sepiring nasi santan terhidang di teras.

“Apa-apaan ini?” tanyaku dengan nada mengejek.

“Le, kau baru pulang semalam dari perantauan. Jadi jangan banyak protes!” Mak berlalu usai mempersiapkan sesajennya itu. Ia benar-benar tak menghiraukanku.

“Ini untuk langit,” jawab kakakku.

“Sudah sejak dua tahun ini kami memberikan makanan untuk langit.”

“Apa?! Kau pikir langit akan melahap makanan ini?” protesku.

“Ya! Setiap matahari telah terbit, kami memeriksanya, dan makanan itu bersih. Hanya tinggal cawannya saja.”

Aku baru saja hendak membuka mulut, namun ia telah lebih dulu berucap.

“Dua tahun lalu, seluruh petani di desa ini mengalami gagal panen, termasuk Bapak. Hidup kami sangat menyedihkan. Lalu datanglah seorang dukun dengan lima anak buahnya, entah dari mana asal mereka. Dukun itulah yang membuka mata kami untuk lebih memuja langit, dengan memberikan makanan. Tak lama setelah kami melakukan perintahnya, kebun kami kembali membaik. Ayam Bapak pun bertelur banyak dan tumbuh gemuk. Dukun itu berpesan, setelah menyiapkan makanan untuk langit, kita tak boleh keluar rumah hingga matahari muncul sempurna. Berkat dukun itu, hidup kami semakin makmur,” jelasnya dengan ceria.

Aku menggelengkan kepala berkali-kali. Aku membayangkan makanan itu terbang ke langit, seperti medan magnet yang menyerap besi-besi, lalu hilang ditelan awan. Seperti itukah langit di zaman ini?

Translate »