“Yang aku takutkan adalah warga desa ini yang semakin bodoh!” jawabku seraya berlalu dengan umpatan di sepanjang jalan.
Aku berjinjit mendekati rumah suram berhawa mistis itu. Mata kutempelkan pada lubang kecil di dinding papan, bekas gigitan kumbang.
“Hahaha… benar-benar serasa di surga!” seru seorang lelaki yang diikuti tawa lelaki lainnya. Lima lelaki kurus jangkung, dan seorang lelaki gemuk berpakaian serba hitam dan berjenggot lebat. Di tengah mereka terhidang buah-buahan segar. Sementara di sekelilingnya tulang ayam berserakan.
Brakk!! Pintu papan itu seketika terlepas dari engselnya.
“Jadi kalian menipu kami!?” pekik Bapak. Di sampingnya berdiri para warga yang tak kalah beringasnya dari Bapak.
Awalnya mereka tak percaya, namun setelah mereka kuseret dan kupaksa mengintai, akhirnya mereka paham. Wajah-wajah murka itu membuat Mbah Kuncono dan anak buahnya gelagapan. Dengan paksa, warga menyeret mereka ke tepi desa, dan setelah puas menghajar, mereka mengusirnya. Sorak-sorak amarah para wanita di tepi jalan membuat suasana makin panas. Tampak Mak berkali-kali mengelus dada seraya memandangi langit gelap. Tatapannya begitu iba. Sementara aku masih berdiri di tepi jalan, jauh dari kerumunan.
“Logika lebih benar daripada tahayul. Langit bukan untuk disembah. Langit pun tak makan buah, ayam panggang, serta nasi santan. Harusnya kita lebih percaya pada Tuhan,” jelasku tegas sambil menepuk pundak Mak.
“Tuhan?” Mak menoleh dengan mata berbinar.
***
Biodata:
Penulis bernama pena Ernia Aminun ini lahir di Dendang, Tanjabtim, 22 tahun lalu. Buku solo yang pernah diterbitkan adalah kumpulan cerpen Menanti Janur Kuning dan novel Stockholm Love.
Kontak: pin D08EDBCF, ig @ernia.aminun fb : Ernia D’twence.
