Saturday, May 23, 2026
Home > Literasi > Cerita > Nyanyian Subuh

Nyanyian Subuh

Asap sesajen

***

SUBUH selanjutnya, Mak bangun lebih dini. Pukul 03.30. Dengan tangan perkasa, Mak memenggal kepala ayam jago hingga terpisah dari lehernya. Setengah jam kemudian, bau harum menyengat dari dapur. Ayam panggang telah siap. Setelah mempersiapkan sesajen, kami bernyanyi bersama. Nyanyian yang sama.

Aku melirik ke luar jendela. Rumah-rumah tampak kuning dengan lampu teplok. Sesajen terhidang rapi di teras-teras. Aku menggelengkan kepala. Usai bernyanyi, kami berbincang-bincang ringan. Bosan, aku menjauh dan berdiri di sisi jendela. Gorden usang itu kusibak.

Hari masih dingin, matahari masih malu pada subuh. Sudah setengah jam sesajen itu terhidang. Aku menunggu hal gila itu terjadi, ketika makanan-makanan itu terbang ke langit. Namun tak ada tanda-tanda apapun. Langit tampak diam dan tak peduli. Tiba-tiba kubulatkan mata ketika dari kejauhan tampak bayangan tiga orang lelaki berjalan cepat dari teras ke teras. Gelap membuatku tak terlalu jelas menyimpulkan apa yang mereka lakukan. Namun mereka tampak membawa kantung besar. Tak beberapa lama bayangan itu mendekat ke rumah kami. Gorden segera kututup. Hanya celah kecil kusisakan untuk mata kiriku. Tiga lelaki itu mengemasi buah-buahan dan ayam panggang Mak, lalu pergi tergesa-gesa seperti maling.

***

“Terima kasih langit, kau telah menerima makanan dari kami,” seru Mak seraya berlutut dan mengadahkan tangan ke langit setelah membuka pintu dan mengetahui cawan makanan itu kosong.

Aku memandang langit biru yang berkemilau diterpa cahaya matahari. Lalu kuperhatikan sorak gembira dari rumah-rumah lainnya.

“Terima kasih langit. Terima kasih langit!”

“Turunkanlah kebaikanmu, langit!”

Aku menggeleng kuat, lalu kuhampiri kakakku.

“Kalian sudah gila! Di mana rumah dukun itu?! Kalian mau saja dibodohi dukun itu!”

Plakk!

Bukan jawaban kakakku yang kudapat, justru tangan Bapak yang mendarat keras di pipiku.

***

DENGAN bertanya ke sana kemari pada setiap warga yang melintas di jalanan, akhirnya aku berdiri di halaman rumah dukun itu ketika hari mulai gelap. Aku mendapat beberapa informasi dari warga. Dukun itu rupanya seorang peramal.

“Jika tidak melakukan ritual memberi makanan pada langit, maka langit akan marah dan mengutuk desa. Bisa saja dalam bentuk petir atau badai besar. Begitu kata Mbah Kuncono,” jelas seorang lelaki penggembala kambing.

“Lalu kalian menuruti ucapannya? Memangnya dia siapa? Tuhan?”

Lelaki itu melotot. Dahinya berkerut, seolah yang berdiri di hadapannya adalah orang tolol.

“Kau tidak takut jika terjadi bencana!?” suara lelaki itu meninggi.

Translate »