Meski orang tua Fasha sebagai buruh, namun pengorbanan orang tua inilah yang pada akhirnya menjadikan saudara-saudaranya dan juga Fasha mampu menamatkan perguruan tinggi. Kenakalan-kenakalan Fasha sejak masa remaja pun juga dikisahkan, banyak hal-hal konyol yang menggelitik dan membuat saya tersenyum-senyum sendiri bahkan sampai heran. Sejak SMP hingga kuliah Fasha juga aktif berorganisasi. Organisasi-organisasi inilah yang membuatnya paham bahwa menjalin relasi adalah hal penting. Saat berkuliah di jurusan Teknik Sipil, dari sisi akademik Fasha tidak menonjol, namun Fasha bisa diandalkan sebagai ketua tingkat dan ketua Menwa di kampus.
Baca juga: Mata Hari, Perempuan di Pusaran Kekuasaan
Dendam Fasha pada kemiskinan di masa lalu, membuatnya berani mengambil keputusan-keputusan penting, yakni mengundurkan diri menjadi pegawai pertamina dan mengundurkan diri dari pekerjaannya sebagai kontraktor yang saat bujangan kala itu gajinya sudah mencapai 25 juta rupiah. Fasha nekat membuka usaha sendiri dengan bermodalkan kerja keras dan kegigihan. Meski tidak memiliki rupiah, dengan keberanian dan kecerdasannya, Fasha sungguh menginspirasi banyak pembaca yang kelak akan meniru rekam jejaknya. Buku ini sangat layak dibaca oleh siapa saja yang ingin meraih sukses. Bayangkan saja, Fasha yang dulu hidup serba kekurangan, bahkan tak memegang uang sepeser pun, kemudian meraup untung milyaran rupiah melalui kerja kerasnya. Ini tentu perjalanan hidup yang pantas ditiru bagi siapa saja. Kekuatan narasi yang dibangun oleh Anab Afifi menimbulkan perasaan bergemuruh di dalam dada pada bab-bab awal saat saya membacanya.
Kekurangan buku ini terletak pada inkonsistensi penulis, yakni selain penggunakan kata aku dan saya yang seringkali bentrok, juga pada bab delapan warisan hlm. 230 dijelaskan bahwa Fasha mengonsumsi minyak jelantah selama delapan tahun, namun pada epilog di hlm. 241, penulis menuliskan selama sepuluh tahun. Tentu saja ini membingungkan saya sebagai pembaca. Mungkin jika buku ini hendak diterbitkan lagi edisi revisi bolehlah diperbaiki agar menjadi sempurna. Selain itu adanya pengulangan-pengulangan kisah pada beberapa bab yang terkadang terasa membosankan. Pada bab ini telah ditulis, kemudian diulang lagi pada beberapa bab ke depan. Namun demikian, secara keseluruhan dua hal ini tidak akan mengganggu kehebatan perjalanan kisah hidup Fasha yang dinarasikan penulis. Intinya, siapa saja yang membaca tidak akan menyesal memiliki buku ini.
Saya masih ingat ketika dulu Pak Fasha kampanye di lapangan luas yang berdekatan dengan kantor saya, Ganesha Operation Thehok Kota Jambi, saat itu saya sedang melakukan telemarketing. Di sela-sela jeda jam kerja, saya mendengar pidato beliau yang menyatakan “Jika saya terpilih menjadi Walikota Jambi, semua uang gaji saya akan saya sumbangkan ke masyarakat miskin.” Awalnya, saya pikir ini absurd sehingga menimbulkan banyak pertanyaan dalam kepala saya. Namun, setelah membaca sepak terbang beliau di buku biografi ini, saya percaya bahwa Pak Fasha memang berbeda dari yang lain. Beliau tidak mengejar materi sebab dari usahanya saja beliau mendapatkan untung milyaran rupiah. Beliau pun kini telah membuktikan bahwa uang gajinya memang sepenuhnya digunakan untuk membantu rakyat miskin.
Baca juga: Ada Kecoak di Filosofi Kopi
Saat menjabat sebagai walikota Jambi, Fasha sering mendapat penghargaan bahkan dari presiden Jokowi. Beliau melakukan banyak hal-hal inspiratif, seperti memberikan pelayanan kesehatan, mengontrol kebersihan kota hingga tiga kali berturut-turut menjadi juara di tingkat nasional, memberangus bandar narkoba di Pulau Pandan dan menutup lokalisasi Payo Sigadung atau dikenal dengan istilah Pucuk, yang ternyata jumlah PSK-nya mencapai 600-an dengan jumlah mucikari sekitar 400-an. Ternyata jumlah yang sangat banyak ini separuh lebih besar dari jumlah PSK lokalisasi Doli di Surabaya yang juga telah ditutup oleh walikotanya.
